Pengmas
Siap Panen. Warga binaan pengmas Departemen Biologi siap memanen hasil pengmas. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi dalam serangkaian kegiatan bertajuk “Budidaya Sayuran dengan Metode Hidroponik sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Pedagang Sayur Keliling dan Takmir Mushola di Desa Keputih Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya” melakukan pengabdian masyarakat kepada ibu-ibu PKK pada Minggu, (16/09). Kegiatan yang dilakukan di Jalan Keputih Timur Pompa Air itu menjadi kegiatan yang terakhir kali dilakukan. Pasalnya, program pembinaan budidaya sayuran hidroponik sudah dilaksanakan dari Juli lalu.

“Kegiatan kali ini dilaksanakan aksi panen bersama ibu – ibu PKK,” ungkap Prof., Dr., Yosephin Sri Wulan Manuhara M.Si., selaku ketua pengmas.

Dosen yang kerap disapa Prof. Wulan itu berujar bahwa pada ada program budidaya sayuran hidroponik, Departemen Biologi membagi menjadi 5 tahap kegiatan. Tahapan pertama ialah membuat sistem hidroponik menggunakan sistem Nutrient Film Tehnique (NFT) di Sidoarjo. NFT adalah sistem yang sering dipakai pada penanaman hidroponik.

Tahap kedua, lanjutnya, dilakukan pemasangan sistem NFT di desa binaan, yakni Desa Keputih. Sebagian dana juga dialokasikan untuk pembuatan green house sebagai rumah tumbuhnya tanaman hidroponik tersebut. Tak lupa dipasang paranet pada langit-langit green house. Pemasangan paranet pada green house penting di mana berfungsi untuk mengurangi intensitas cahaya matahari yang masuk.

“Hal itu didasari karena Desa Keputih dekat dengan pantai, sehingga paparan sinar matahari cukup banyak,” jelasnya.

Barulah pada tahap ketiga, tandasnya, dilakukan pelatihan kepada ibu PKK berupa penanaman bibit pada 12 Agustus lalu. Bibit yang ditanam adalah sayur-sayuran, seperti kangkung, sawi, bayam merah, bayam hijau, dan selada. Dua minggu setelah bibit ditanam, pada tahap keempat dilaksanakan pemindahan lahan bibit ke media hidroponik. Kemudian tahap terakhir, sayuran sudah siap dipanen.

Pemilihan tempat di Desa Keputih didasarkan pada pendapatan warga yang mayoritas menengah ke bawah. Sehingga harapannya jika difasilitasi mereka dapat meningkatkan pendapatannya. Prof. Wulan juga mengatakan setelah pembinaan ini selesai, para warga diminta untuk mengelola tanaman sendiri dengan media hidroponik.

“Namun di sini kita tetap memantau perkembangan para ibu sampai 6 bulan ke depan,” pungkas Prof. Wulan.

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone