Desain: Feri Fenoria Rifai
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Padatnya kuliah membuat Maruti Widihadiningtyas bertekad untuk fokus pada akademiknya. Tak sia-sia, mahasiswa S2 farmasi klinik tersebut berhasil lulus ber-IPK yang sangat membanggakan, yakni 3,87. Ia berhasil dinobatkan sebagai wisudawan terbaik S2 Fakultas Farmasi UNAIR, periode September 2018.

”Perkuliahan saya di semester I sistemnya adalah blok. Diselesaikan semua terlebih dahulu, baru ujian. Lalu, dilanjutkan PKL (praktik kerja lapangan, Red) enam stase selama setahun yang lumayan menyita waktu saya. Jadi, saya memilih fokus untuk kuliah dan PKL,” jelas mahasiswa asal Probolinggo tersebut.

Perempuan kelahiran 16 Juni 1993 itu mengungkapkan, waktu merupakan masalah utama yang harus dihadapinya. Jadwal kuliah yang begitu padat membuatnya sangat sulit untuk membagi waktu.

”Kendala yang paling berarti adalah waktu. Saya merasa 24 jam itu kurang,” tambahnya.

Mengenai tugas akhirnya, Maruti menulis tesis berjudul Korelasi Perubahan Kadar Tumor Necrosis Factor- α (TNF-α) Sebagai Prediktor dan Enzim Hati sebagai Parameter Kejadian Efek Samping Drug Induced Liver Injury (DILI) pada Pasien Epilepsi yang Mendapatkan Monoterapi Fenitoin. Penelitiannya itu dilakukan di dua tempat, yaitu Poliklinik Saraf Instalasi Rawat Jalan RSUD Dr Soetomo Surabaya dan RS Imanuel Bandar Lampung.

”Penelitian ini bertujuan mengetahui dan menganalisis korelasi peningkatan kadar TNF-α dalam darah sebelum terjadi kejadian efek samping hepatotoksik akibat penggunaan obat anti epilepsi fenitoin,” sebutnya.

Menurut Maruti, umumnya yang digunakan sebagai penanda terjadinya DILI (kerusakan hati) akibat penggunaan obat adalah peningkatan kadar enzim hati. Namun, bila terjadi peningkatan, itu tandanya hati sudah rusak.

“Maka di sini, saya ingin mengetahui marker apa yang terlibat dalam proses terjadinya kerusakan hati akibat penggunaan fenitoin sehingga dapat digunakan untuk marker pendeteksi dini sebelum terjadi DILI,” jelasnya.

Maruti memilih fenitoin karena tergolong obat antiepilepsi generasi awal. Namun, fenitoin masih umum digunakan untuk mengatasi kejang atau epilepsi. Efektivitas dari fenition juga baik dan harganya terjangkau.

Maruti menuturkan, sela-sela waktunya seusai S2-nya diluangkan untuk mencari pekerjaan. Dia ingin jadi apoteker klinis di rumah sakit. Juga tidak tertutup kemungkinan berprofesi sebagai dosen.

Kepada mahasiswa, Maruti berpesan sebisa mungkin membuat list yang akan dicapai. Selain itu, jangan pernah menunda-nunda pekerjaan karena merasa memiliki banyak waktu.

“Mengerjakan dekat deadline akan membuat kita terburu-buru. Sering pula kurang maksimal. Jangan lupa juga selalu berdoa, meminta restu orang tua, bersyukur, serta berusaha maksimal,” pungkasnya. (*)

Penulis: Najib M. Rahman

Editor: Feri Fenoria Rifai

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone