Perintis Pendidikan Kedokteran Anak Tutup Usia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prosesi persemayaman Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Prof. Dr. dr I Gusti Nyoman Gde Ranuh di Aula FK UNAIR. (Foto: Sefya H Istighfaricha)

UNAIR NEWS Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Prof. Dr. dr I Gusti Nyoman Gde Ranuh tutup usia pada Rabu, 12 September 2018, pukul 02.55 WIB. Persemayaman digelar di Aula FK UNAIR, pukul 10.00 WIB, di hari yang sama. Jenazah diantar terlebih dahulu menuju Masjid Ulul Azmi Universitas Airlangga untuk disalatkan. Selanjutnya, jenazah dimakamkan di TPU Keputih, Surabaya.

Duka tidak hanya menyelimuti keluarga, tapi juga para sejawat dokter lintas departemen yang nyelawat pada saat itu. Termasuk Rektor Universitas Airlangga periode tahun 1984-1993 Prof. Dr. H.R. Soedarso Djojonegoro, dr., AIF.

Prof Darso mengaku sedih karena ditinggal pergi sahabatnya. Prof Darso dan Prof Ranuh akrab sejak keduanya duduk di bangku SMA, tepatnya AMS Wijaya Kusuma Surabaya, hingga berlanjut masuk perguruan tinggi.

“Mulai dari zaman perpeloncoan sampai sekarang ini. Bahkan kita bersama-sama juga duduk di Pembina RS Darmo,” kenangnya.

Keduanya satu angkatan ketika masuk FK UNAIR. Kemudian masuk menjadi pegawai negeri di Ilmu Faal bersama-sama juga. Hanya saja, dua tahun kemudian Prof Ranuh memilih pindah ke Ilmu Anak.

Karena kedekatan yang terbangun sejak lama, keluarga Prof Ranuh dan Prof Darso akhirnya sama-sama akrab. Dari Istri hingga anak-anak mereka saling merasakan hubungan kekeluargaan.

“Saya sangat kehilangan beliau sebagai sahabat juga sebagai teman seangkatan di FK UNAIR. Karena yang selama saya tahu, angkatan 51 FK UNAIR tinggal lima orang yang masih bertahan. Sekarang tinggal empat, dua orang juga sudah tidak kuat untuk datang ke sini,” katanya.

Di mata Prof Darso, Prof Ranuh adalah pribadi yang sabar dan mau mendengarkan pendapat orang lain. “Jadi selama saya berdiskusi dengan beliau, beliau selalu mendengarkan. Dan itu sering terjadi pada saat saya jadi rektor, dan beliau jadi dekan FK UNAIR,” kenangnya.

Prof Darso masih ingat betul saat terakhir kali bertemu dengan Prof Ranuh. “Satu minggu yang lalu saya masih menjenguk beliau, waktu itu beliau masih sadar. Saya mengatakan ‘yang kuat ya nyo. Saya memang memanggil dia nyo atau nyoman, tidak pernah menyebut ranuh. Dan beliau tersenyum,” kenangnya.

Sosok Prof Ranuh yang sabar dan tekun memang patut diteladani.  Dalam sejarahnya, pria  kelahiran 23 November 1939 ini bukan sekadar dokter spesialis anak, melainkan dokter spesialis anak pertama lulusan FK UNAIR pada tahun 1966.

Pada saat itulah pertama kalinya FK UNAIR memberikan ijazah pada dokter yang memang khusus menangani kesehatan anak. Sebelumnya, pada 1950, pendidikan kesehatan anak masih berupa magang dengan cara berkeliling ruangan dan poliklinik mengikuti dokter senior.

Berkat dedikasinya selama ini, beberapa bulan lalu Grha Masyarakat Ilmiah Kedokteran (Gramik) FK UNAIR dan Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo menggelar acara Tribute Lecture XVI dan menobatkan Prof Ranuh sebagai sosok inspiratif.

Acara tersebut diselenggarakan sebagai bentuk penghargaan atas jasa kakek 13 cucu ini sebagai salah satu perintis keilmuan di bidang kedokteran anak.

Dalam perjalanan karirnya, mantan Dekan FK UNAIR ini menjadi salah satu perintis dan penyusun kurikulum Pendidikan Dokter Anak Indonesia. Kurikulum pertama disusun dan diresmikan pada 1976, kemudian disempurnakan pada 1978 dan 1990. Hingga kini, kurikulum tersebut masih digunakan sebagai pedoman pendidikan kedokteran anak di Indonesia.

Suami RA Rabiatul Abdijah itu juga menjadi salah satu perintis Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga.

Sederet penghargaan pernah diraihnya. Pria kelahiran Jember, Jawa Timur ini pernah mendapat penghargaan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia pada 1978, serta penghargaan dari anggota Board APSSEAR (Association of Pediatrics, S.E. Asian Region) di Tokyo, Jepang, tahun 1988. (*)

Penulis : Sefya H Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu