Desain: Feri Fenoria Rifai
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Dhita Atrisia, perempuan kelahiran 12 Maret 1994 ini, berhasil menjadi wisudawan terbaik pada program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Airlangga dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,76. Dhita menulis tesis yang berjudul ”Pendaftaran Tanah Ulayat Masyarakat Hukum Adat”.

Judul itu dipilih karena melihat kenyataan di masyarakat seperti hak-hak masyarakat yang tidak terlindungi. Topik yang dibahas, yakni mengenai terbitnya ketentuan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional RI Nomor 10 Tahun 2016.

”Dalam ketentuan Pasal 18 ayat (2) Permen Agraria No 10 Tahun 2016, Kepala Kantor Pertanahan atau Kepala Kantor Wilayah BPN berwenang menetapkan dan mendaftarkan hak komunal atas tanah yang dimiliki masyarakat hukum adat pada Kantor Pertanahan Setempat,” ujarnya.

”Munculnya istilah hak komunal yang seolah-olah menggantikan kedudukan dari hak ulayat. Inkonsistensi pengaturan pendaftaran hak ulayat dalam peraturan perundang-undangan inilah yang menjadi faktor terbesar perlindungan masyarakat hukum adat terhadap tanah ulayat yang mereka miliki semakin lama semakin memudar,” tambahnya.

Dhita mengikuti kuliah pada malam. Saat pagi, Dhita bekerja sebagai pegawai tidak tetap di Bagian Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Negeri Surabaya (Datun Kejari Surabaya).

“Hambatan yang besar yang saya alami mungkin dari diri saya sendiri. Terutama untuk fokus dan membagi waktu antara urusan pekerjaan dan kuliah. Di sisi lain, saya sebagai mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas dan tesis. Juga, memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas di kantor. Jadi, kadang agak susah juga untuk mengatur waktunya,” ucapnya.

“Tapi, Alhamdulillah dengan usaha, niat, doa, dan keyakinan, saya tetap bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu. Demi membahagiakan orang tua juga tentunya,” imbuhnya.

Setelah lulus, Dhita berencana fokus mengikuti prosedur untuk menjadi notaris. Termasuk magang di kantor notaris atau Kantor Pertanahan Kota Surabaya. Selain itu, untuk melanjutkan cita-citanya tersebut, dia memilih fokus pada profesi yang ingin ditekuni sehingga bersamaan dengan kelulusannya Dhita mengundurkan diri dari Kejari Surabaya.

”Bahwasanya kuliah sambil bekerja itu agak gampang-gampang susah. Harus pandai

mengatur manajemen waktu dan yang terpenting harus fokus dan memiliki niat untuk

menyelesaikan kuliah,” sebutnya.

”Keduanya harus berjalan seimbang. Selain itu, bila ada waktu luang, sebaiknya digunakan untuk mengerjakan tugas kuliah atau belajar materi-materi yang telah

diajarkan,” tambahnya. (*)

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone