Desain: Feri Fenoria Rifai
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Rahadi Wasi Bintoro, rupanya, tidak pernah setengah-setengah dalam menjalani pendidikannya. Selama kuliah S3, ayah dari dua orang anak itu kerap membuat artikel ilmiah, mengikuti seminar, baik nasional maupun internasional, serta aktif melakukan penelitian.

Dua penelitian terbarunya berjudul Bantuan Hukum untuk Rakyat Miskin (Studi tentang Pengembangan Model pembiayaan bantuan Hukum Bagi Rakyat Miskin di Jawa Tengah). Penelitian tersebut didanai Kemristekdikti (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi). Termasuk Model Peradilan Sederhana di Peradilan Agama dalam Perkara Ekonomi Syariah yang didanai DRPM (Direktur Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat) Dikti.

”Setelah sempat tidak lolos, Alhamdulillah Pada 2017 akhirnya lolos. Penelitian disertasi doktor yang didanai DRPM Dikti dan dapat menyelesaikan penelitian. Juga, kuliah sesuai target waktu yang saya rencanakan,” ujarnya.

Dengan indeks predikat kumulatif (IPK) 3,83, Rahadi sukses menjadi wisudawan berprestasi melalui disertasinya yang berjudul Hukum Acara Peradilan Agama dalam Bidang Ekonomi Syariah Berlandas Prinsip Peradilan Sederhana, Cepat, dan Biaya Ringan. Judul itu diangkat karena Rahadi menganggap bahwa sampai saat ini masih terdapat ketidakpastian berkaitan dengan hukum acara yang berlaku di Peradilan Agama.

Khususnya mengenai kompetensi absolut peradilan agama untuk memeriksa perkara ekonomi syariah sebagai akibat semakin luasya kompetensi yang dimiliki peradilan agama. Jadi, dimungkinkan berbenturan dengan kompetensi lembaga peradilan lainnya.

”Disertasi saya juga membahas mengenai pengaturan prinsip peradilan sederhana, cepat, dan biaya ringan dalam pemeriksaan perkara ekonomi syariah. Telaah kedua topik tersebut diharapkan dapat memberikan tambahan masukan bagi khasanah ilmu hukum acara perdata di peradilan agama dan masukan bagi pemegang peran. Khususnya pemangku kekuasaan kehakiman di Indonesia dalam rangka mewujudkan peradilan sederhana, cepat, dan biaya ringan,” tutur alumnus Universitas Jenderal Soedirman tersebut.

Meski kerap melakukan berbagai kegiatan, Rahadi mengaku tidak menemukan kendala yang berarti lantaran dukungan dari berbagai pihak. Menurut dia, menajemen waktu yang baik dan fisik yang prima sangat dibutuhkan untuk menjalani kegiatan. Terutama dalam menyelesaikan tugas akhir. Setelah lulus, Rahadi ingin menulis buku yang bersumber dari disertasinya.

”Setiap kegiatan, pasti ada hambatan, termasuk melaksanakan studi S3. Hambatan terbesar dalam melaksanakan studi adalah dari intern, pada diri-sendiri, berupa mudah putus asa, malas, yang bisa mengakibatkan rencana dan target tidak dapat diselesaikan dengan baik,” ujarnya.

”Karena itu, manajemen waktu, kemauan yang keras atau kesungguhan sangat dibutuhkan. Tentu disertai dengan doa yang sungguh-sungguh pula,” pungkasnya. (*)

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Feri Fenoria Rifai

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone