Desain: Feri Fenoria Rifai
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Putut Rakhmad Purnama, wisudawan terbaik S2 Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Universitas Airlangga (UNAIR), raih gelar wisudawan terbaik dengan IPK 3.96. Dalam penyusunan tesis sebagai syarat kelulusan, pria kelahiran Surabaya, 27 Agustus 1991 tersebut mengambil judul Respons Thalassia hemprichii (Ehrenb.) Aschers. Terhadap Perlakuan Cekaman Suhu Tinggi.

Putut menjelaskan, topik penelitian tersebut adalah tentang respons tanaman akuatik lamun terkait cekaman suhu tinggi (simulasi adanya pemanasan global, red). Sehingga, imbuhnya, hal itu dapat memprediksi dan dapat menjadi indikator awal tanaman itu sedang mengalami cekaman atau stress.

“Parameter yang saya amati adalah perubahan morfologi, anatomi, fisiologi dan ekspresi gen penyandi antioksidan dan heat shock protein,” jelasnya.

Diambilnya judul dan topik penelitian tersebut adalah karena sesuai dengan passion Putut. Hanya saja, dengan begitu Putut harus berani mengambil risiko besar. Sebab, penelitian yang dia lakukan membutuhkan banyak biaya. Hal tersebut, tandasnya, karena dalam penelitian tersebut, dia diharuskan untuk mengukur aspek molekuler.

“Dan pendanaan harus saya tanggung sendiri,” imbuhnya.

Putut bersyukur, masalah pendanaan tersebut dapat diatasi dengan diperolehnya Beasiswa Unggulan. Sehingga dapat membantu untuk mewujudkan impiannya melakukan penelitian tersebut.

“Saya berpikir bahwa saya harus menjadi seseorang yang berbeda dan berani. Tidak banyak di Indonesia ini yang melakukan penelitian mengenai Lamun (Thalassia hemprichii) apalagi hingga tingkat molekuler (ekspresi gen),” terang Putut.

Tidak hanya hambatan biaya, kondisi dimana belum adanya penelitian ekspresi gen menggunakan parameter mRNA (transkriptomik) sebelumnya di biologi UNAIR membuat Putut harus menjadi pioneer dalam penelitian tersebut.

“Alhamdulillah banyak pihak yang membantu saya, mulai dari beberapa dosen atau peneliti dari Fakultas Kedokteran UGM, Sekolah Farmasi ITB, dan dari PT. Sciencewerke Indonesia juga dari beberapa dosen Biologi UNAIR sendiri,” jelas Putut.

Menurut Putut, untuk menempuh kuliah di S2, mahasiswa tidak bisa hanya menerima materi dari ruang kuliah. Justru mahasiswa sendiri yang harus mengeksplore ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan menjadi lebih baik. Kemudian, mahasiswa harus berani bermimpi dan tampil beda.

“Saya dulu tidak percaya akan bsa melakukan penelitian tersebut. Namun saya percaya bahwa Allah SWT akan memihak hamba-hambanya yang berani,” ucap Putut.

Ke depannya, ia berharap dapat menjadi seorang ahli fisiologi stress tumbuhan. Karena menurutnya, tantangan terbesar pertanian Indonesia adalah bagaimana tanaman dapat beradaptasi atau toleran terhadap perubahan iklim yang terjadi terus-menerus.

“Dengan demikian, saya berencana untuk menjadi peneliti di LIPI atau mengajar menjadi dosen sembari melakukan penelitian,” pungkas Putut.

Penulis : Galuh Mega Kurnia

Editor : Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone