Desain: Feri Fenoria Rifai
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Menjalani studi doktoral, merangkap dosen, merangkap istri yang memiliki 2 anak tentu bukan tanggungjawab yang mudah. Meski demikian, segala tantangan dapat dilaui Haerani Nur untuk lulus kuliah tepat waktu. Setelah menempuh studi empat tahun lamanya, Haerani lulus doktoral dengan predikat wisudawan terbaik dari Fakultas Psikologi, dengan IPK sebesar 3,75.

Haerani mengaku, delapan semester menjalani kuliah tidak sepenuhnya lepas dari tugas institusi tempatnya bekerja, Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar.

“Selama kuliah, hanya tiga semester saya menjalani tugas belajar tanpa membantu mengajar, tetap membimbing skripsi mahasiswa, dan juga tetap menjadi dosen penasehat akademik,” papar Haerani.

Haerani menyadari, kuliah S3 sangat kompleks, berbeda dengan ketika S1 dan S2. Kendala yang ia hadapi juga kompleks dan variatif.

“Pada dasarnya, kompleksitas ini berasal dari peran-peran yang harus saya jalankan dalam waktu yang sama, yang menuntut untuk bisa mengatur diri dan waktu dengan baik, meskipun terkadang saya merasa keteteran,” terang alumnus Magister Sains Psikologi Universitas Gadjah Mada itu.

Selama empat tahun kuliah, ujian sakit paling sering Haerani alami. Apalagi jika menyangkut anak-anak dan orangtua. Terkadang, ia harus rela mengikhlaskan target kuliah untuk sejenak merawat keluarga hingga dapat ditinggal kembali ke Surabaya.

“Di sinilah saya merasa jarak antara Makassar dan Surabaya pun menjadi kendala yang sangat berat,” terang Haerani.

Terkait dengan pelaksanaan penelitian disertasi, Haerani mengeksplorasi pengalaman harapan ibu terhadap masa depan anak yang mengalami keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa. Meski sempat menghadapi kendala terkait partisipan penelitian, namun berbagai kendala itu dapat dilaluinya.

Semua yang Haerani sebut sebagai kendala akhirnya menjadi semangat baginya untuk terus berusaha menjalani tahap demi tahap studi. Dalam proses itu, Haerani merasakan pentingnya untuk selalu berpikir positif.

“Saya merasakan pentingnya untuk tetap berpikir positif terhadap apapun situasi yang kita alami, baik yang sesuai dengan harapan ataupun yang tidak diharapkan,” papar perempuan kelahiran Ujung Pandang, 21 Mei 1982.

Dalam menempuh studi, Haerani memiliki target yang diupayakan harus tercapai. Ia menghargai dan mensyukuri setiap progres yang berhasil dicapai. Bahkan, ketika target tidak tercapai, ia tetap tenang menghadapi. “Hal ini mengarahkan saya untuk mengevaluasi kegagalan dan memperbarui target saya,” ujar doktor yang dalam empat tahun terakhir menjadi presenter 5 seminar ilmiah nasional dan internasional.

Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan studi tepat waktu, tepat delapan semester. Sungguh saya sangat menyadari semua ini karena kuasa-Nya. Laahawla walaa kuwwata illabillah,” tutupnya. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone