Desain: Feri Fenoria Rifai
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Ade Irmalia Harifa merasa bangga dan lega setelah ditetapkan sebagai wisudawan terbaik Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga, pada wisuda periode September 2018. Perempuan kelahiran 23 Januari 1996 itu, berhasil lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,86.

Tak hanya menghabiskan masa perkuliahan belajar dikelas saja, alumnus S1 Akuakultur itu juga merupakan aktivis yang aktif diberbagai organiasi kampus. Ia pernah menjadi Sekretaris Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FPK tahun 2017, Sekretaris di Sie Kerohanian Islam  (SKI) hingga menjadi Bendahara Divisi Budidaya Kajian Keilmiahan Mahasiswa (KAKEMA) FPK UNAIR tiga tahun berturut-turut sejak 2014 hingga 2017.

Menurut perempuan asal Sidoarjo itu, masa paling sulit adalah ketika ia harus mengambil keputusan yang berdampak tak hanya pada dirinya tetapi juga tim. Dalam hal itu, menurutnya, kematangan secara emosi dan psikologi menjadi penentu utama pencapaian. Selain itu, kendala lain yang ia alami semasa studi yaitu ketika masa skripsi.

“Semasa menyelesaikan skripsi, mulai dari proposal, kegiatan penelitian hingga penyusunan skripsi, banyak faktor di luar kehendak dan perkiraan yang menjadi hambatan sehingga penyelesaian skripsi menjadi diluar waktu target saya,” kenang perempuan kelahiran Malang tersebut.

Akan tetapi, menurutnya, tiap hambatan merupakan salah satu berkah, karena pengalaman menghadapi hambatan tersebut ia belajar mengatur emosi dan pikiran serta menjadi lebih dewasa untuk bisa melewatinya. Baginya, setiap masalah harus dilihat dari segi positif  serta pandai bersyukur untuk dapat diambil manfaat terbaiknya.

Perempuan yang sedang disibukan dengan mengembangkan aplikasi  PEKA TALA (Pedoman Kalender Tanam Rumput Laut Berbasis Android)  dan melakukan kegiatan sertifikasi bersama tim nya berpesan agar menjadikan ilmu yang didapatkan selama kuliah dan praktikum bukan hanya untuk target lulus dan mendapatkan nilai IPK yang tinggi, tetapi ilmu tersebut bisa meresap dalam diri sendiri lalu disampaikan pada masyarakat yang tidak berkesempatan mendapat ilmu tersebut agar lebih bermanfaat tak hanya untuk diri sendiri tapi juga orang lain.

“Jangan mengeluh jika gagal karena hambatan ketika kuliah, karena pada masa itu ada pintu lain menuju pengembangan diri dan jalan sukses yang tak kamu sadari. Syukuri setiap pencapaian kecil yang didapat hari ini, karena itu bisa menjadi motivasi untuk bangkit ketika kegagalan datang,” jelasnya.  “Selalu ingat dari mana kita berasal dan jadikan Tuhan, orang tua dan keluarga kita sebagai pengingat kita setiap saat akan melakukan berbagai kegiatan,” pungkasnya. (*)

Penulis: Wiwik Eryanti Ningrum

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone