Prof Amin Alamsjah memaparkan potensi kemaritiman Indonesia dalam seminar gelar inovasi guru besar, Kamis (13/9). (Foto: Agus Irwanto)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Guru besar bidang ilmu budidaya perairan Universitas Airlangga Prof Amin Alamsjah mengemukakan potensi besar kemaritiman di Indonesia. Sayangnya, potensi besar itu belum dimaksimalkan sehingga banyak nelayan yang masih hidup di garis kemiskinan.

Dalam bidang kemaritiman, Prof. Amin Alamsjah mengatakan bahwa ada tiga potensi besar kelautan yang dimiliki Indonesia. Ketiganya adalah produksi ikan tuna, udang, dan rumput laut. Untuk produksi tuna dan udang, terdapat penurunan sejak tiga tahun terakhir.

Dari ketiga produksi itu, Indonesia adalah negara yang memproduksi rumput laut terbesar di dunia. Namun, 80 persen produksi masih dalam bentuk mentah. Padahal, jika rumput laut mentah diolah sedemikian rupa dan diproduksi dalam produk lain, 1 bahan baku rumput laut bisa hingga menjadi 1000 produk.

Melalui alih teknologi, untuk produk kosmetik saja, rumput laut dapat diolah menjadi suspending agent, binding agent, shining agent, formating agent, maupun water holding agent.

Salah satu faktor penyebabnya adalah rendahnya inovasi terhadap produk kelautan di Indonesia. Diperlukan adanya inovasi agar produk ekspor Indonesia tersebut diubah dalam bentuk yang lebih bermanfaat.

Ada enam usul strategis yang disarankan oleh Prof Amin terkait pengembangan kemaritiman di Indonesia. Pertama, transfer of technology yang dilakukan untuk semua sisi. Baik level sederhana atau basic science, middle science, maupun teknologi science.

“Semua harus bergerak bersama. Industri dan pihak obat-obatan juga harus bergerak dalam bidang teknologi. Pemerintahan dalam hal ini harus bisa mengkomando. Kerjasasama dengan universitas, balai riset, juga industri,” papar Prof Amin.

Kedua, incorporate technology in existing industries. Parof Amin menganjurkan agar Indonesia melihat, mengelaborasi, juga menyarankan untuk melakukan kolaborasi dengan industri-industri di luar negeri yang benar-benar eksis menghasilkan produk perikanan yang bagus. Selama ini, lanjut Prof Amin, Indonesia belum menghasilkan produk dengan kualitas yang bagus. Maka tetap tertinggal.

Usul ketiga, business development. Pengembangan bisnis ini tugas bersama, khususnya pemerintah. Kolaborasi baik antara kementerian keuangan, kementerian kelautan, dan perikanan, kementerian perindustrian, maupun kementeruian lain yang sejalan.

Keempat, attraction of foreign investment. Kelima, investigation of critical mass. Dan keenam social and environment improvement.

“Indonesia adalah biodifessitas terbesar kedua setelah Brazil. Mengapa kita tdk fokus untuk mengembangan itu saja,” tegas Prof Amin mengakhiri. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone