Desain: Feri Fenoria Rifai
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Selain mampu berprestasi secara akademik, Luthfita Nur Rosyidah juga membuktikan bahwa ia dapat mengurus rumah tangga dengan baik. Perempuan muda yang berasal dari Magister Kajian Sastra dan Budaya tersebut, tercatat sebagai Wisudawan terbaik S-2 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) periode September 2018. Ia lulus dengan perolehan Indeks Prestasi kumulatif (IPK) 3,84.

Wisudawan kelahiran Surabaya, 18 November 1992 itu bercerita mengenai ketakutan sebelum menikah, khususnya kekhawatiran akan molor-nya masa studi yang akan ditempuh.

“Jujur, stereotip ini sempat menghantui saya ketika melangkah ke jenjang pernikahan pada Desember (tahun 2017, red) lalu, namun saya dan suami berdiskusi dan berjanji untuk rencana kehidupan pasca-pernikahan dan Alhamdulillah, kami  lulus bersama dan tepat waktu,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia bercerita bahwa selama mengerjakan Tesis ia sedang berada dalam masa kehamilan. Tepatnya 4 bulan setelah menikah.

“Stereotip ini justru membuat saya lebih bersemangat untuk membuktikan bahwa saya perempuan yang mengandung mampu survive dengan studi saya. Kehamilan saya sehat, saya juga mampu menikmati setiap proses pengerjaan tesis dengan penuh tanggung jawab,” tandas mahasiswi yang pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Magister Kajian Sastra dan Budaya Periode 2016-2017 tersebut.

Dalam Tesisnya, ia mengangkat judul “Plastisitas Spiritualitas dalam Heksalogi Novel Supernova Karya Dee”. Topik yang dibahas meliputi plastisitas (adaptasi) spiritualitas dalam serial novel Supernova. Menurutnya, Spiritualitas dalam enam novel serial Supernova tidak sekadar membawa hal-hal terkait spiritual, dogma agama, dan sesuatu yang abstrak, namun, lebih kepada ilmu pengetahuan yang mampu mencapai sebuah kesadaran spiritual tertentu. Spiritualitas pada karya Dee, jelasnya, mengarah pada hal-hal yang lebih plural tanpa membawa isu suatu agama tertentu.

Untuk inspirasi kecintaan pada dunia sastra, ia mengangumi sosok Seno Gumirah Adjidarma dan Zawawi Imron. Tulisan dari mereka, imbuhnya, dapat menginspirasi bahwa sastra Indonesia memang patut diapresiasi.

Terakhir, sosok paling ia kagumi dan hormati adalah BramantioS.S., M.Hum., dosen Bahasa dan Sastra Indonesia. Bramantio, jelasnya, merupakan dosen yang selalu membuatnya termotivasi untuk menghasilkan tulisan-tulisan kritik sastra terbaik.

“Tulisan beliau bagi saya selalu terasa berbicara kepada pembaca. Selain itu, juga menuntun pembaca untuk masuk dalam permasalahan step by step, sangat rinci. Terima kasih, Pak Bram, sudah menjadi dosen pembimbing terbaik sekaligus teman diskusi saya selama studi S1 dan S2 di UNAIR sejak 2011 sampai sekarang,” pungkasnya. (*)

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone