Desain: Feri Fenoria Rifai
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Di semester akhir, saya mengerjakan skripsi sambil mengajar bimbel hingga lima belas kali sepekan”. Begitulah ungkapan semangat saat ditanyai kesibukan sebelum lulus dari Iqro Maa Filardzi, mahasiswa S1 Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), yang dinobatkan sebagai wisudawan terbaik periode September 2018. Ia lulus dengan perolehan IPK sebesar 3.92.

Wisudawan kelahiran Surakarta, 16 November 1996 tersebut menambahkan, sebagai mahasiswa yang kurang mampu, harus pintar-pintar berhemat dan mencari sumber penghasilan tambahan. Hal itulah yang mendorongnya untuk menjadi pengajar bimbingan belajar Bahasa Indonesia bagi siswa SMA yang hendak mendaftar ujian STAN, IPDN, Akpol, dan SBMPTN.

“Selama menjadi pengajar di sana, saya harus pulang-pergi ke tempat bimbel dengan mengayuh sepeda selama satu jam. Dan itu hampir setiap hari,” tandasnya.

Mahasiswa yang kerap disapa Imaf tersebut mengusung skripsi yang berjudul “Struktur Cerita Detektif Serial Cerita Anak Astrid karya Djokolelono”. Alasannya mengambil topik sastra anak karena penelitian dan perhatian terhadap sastra anak masih cukup rendah di Indonesia. Padahal, tandasnya, sastra anak adalah hal yang sangat penting diperhatikan.

“Karena penanaman minat baca dan nilai-nilai kebaikan harus dilakukan sejak usia dini,” ungkapnya.

Ia terinspirasi dari Enid Blyton, penulis serial detektif anak Lima Sekawan. Enid telah menulis lebih dari tujuh ratus buku anak selama hidupnya. Menurutnya, hal itu yang menjadi sumber inspirasi untuk berkarya dan membaktikan diri di dunia sastra anak lewat penulisan skripsi.

Baginya, kesulitan dalam menulis skripsi tersebut adalah mengumpulkan puluhan novel detektif anak Indonesia dan luar negeri. Dia menuturkan, kebanyakan novel itu terbit tahun `70 hingga `80-an sehingga cukup sulit ditemui. Bahkan, harus menghubungi para kolektor buku bekas dan menghabiskan uang setidaknya dua juta rupiah untuk keperluan pencarian sumber tersebut.

Ditanyai rencana seteleh lulus sarjana, wisudawan muda yang pernah mendapat program akselerasi ketika SMA tersebut ingin menjadi penulis buku dan memperdalam ilmu sastra anak. Ia berharap dalam beberapa tahun ke depan bisa meraih beasiswa untuk S-2 di bidang sastra anak dan melanjutkan karyanya lewat media.

“Saya juga ingin mempelajari dunia animasi dan perfilman karena saya memiliki impian mendirikan studio kartun animasi dan memproduksi film-film anak. Saya ingin anak-anak Indonesia kelak memiliki hiburan yang menarik, mendidik, dan pantas untuk mereka, ” terang wisudawan yang menggemari rubik tersebut. (*)

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone