DEDDY Poerba Anggara yang dinobatkan jadi peraih nominasi mahasiswa Kultur (kuliah turu) oleh Himpunan Mahasiswa Budidaya Perairan UNAIR di Banyuwangi diwisuda dan menjadi wisudawan terbaik. (Foto: istimewa)
DEDDY Poerba Anggara yang dinobatkan jadi peraih nominasi mahasiswa Kultur (kuliah turu) oleh Himpunan Mahasiswa Budidaya Perairan UNAIR di Banyuwangi diwisuda dan menjadi wisudawan terbaik. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Tak disangka, Deddy Poerba Anggara, mahasiswa Program Studi (Prodi) Budidaya Kelautan Universitas Airlangga di Banyuwangi, mampu meraih predikat wisudawan terbaik prodi. Tepatnya dalam wisuda periode September 2018 pada Sabtu (8/9). Capaian tersebut sangat mengesankan Deddy. Mengingat, selama tiga tahun, predikat Kultur (kuliah turu) melekat kepadanya.

Kultur merupakan nominasi bagi mahasiswa yang sering tidur saat ada kuliah di kelas. Nominasi itu diberikan himpunan mahasiswa budidaya perairan UNAIR di Banyuwangi.

Deddy mendapat gelar Kultur saat agenda Cangkrukan, malam keakraban prodi budidaya perairan. Predikat juara bertahan, tiga tahun berturut-turut, juga melekat kepada Deddy dalam agenda yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Budidaya Perairan (HMBP) PSDKU UNAIR di Banyuwangi.

Saat ditemui tim UNAIR NEWS, ketua Hima Budidaya Perairan Periode 2016–2017 itu mengakui bahwa fakta kuliah turu tersebut sebagai kelemahannya. Namun, kelemahan tersebut, lanjut Deddy, muncul karena dirinya berkomitmen melakukan hal positif saat malam. Misalnya, belajar serta membaca PPT dan jurnal hingga larut malam.

”Aku iki sebenere sering tidur waktu kuliah. Setiap orang punya kelemahan dan kelebihan masing-masing. Ya, berhubung aku kuat bacanya pada malam dan kalau baca siang biasanya gampang ketiduran. Ya sudah, tak manfaatkan malam itu akhirnya (belajar, Red),” katanya, lantas tertawa.

Terkait dengan tips belajar, Deddy bisa dianggap nyleneh daripada yang lainnya. Belajar malamnya hanya berdurasi dua jam. Deddy juga bukan tipikal orang yang suka mencatat, kecuali berhitung.

Menurut dia, yang terpenting dari proses belajar itu adalah kenyamanan. Kenyamanan setiap orang pun berbeda antara satu dan yang lain.

”Ya, saranku se temukan porsi dan pola belajar masing-masing yang senyaman mungkin. Dan, di tempat ternyaman mungkin, setelah itu harus konsisten,” ungkapnya.

”Aku seneng sepi kalau belajar. Kalau misal kosan lagi ramai, mending aku nonton film. Belajarnya nanti kalau sudah sepi. Sebab, percuma dipaksakan, malah nggak masuk, buang waktu, mending nonton film, pikirannya tenang. Nanti buat belajar tambah joss!” tegas Deddy.

Menurut Deddy, kalau ingin mendapat yang terbaik, seseorang harus melakukan yang terbaik pula, fokus dan konsisiten. Selin itu, terkait dengan berbagai usaha yang terbaik tersebut, diperlukan keyakinan untuk menjalaninya. Yakin hasil postif tengah menunggu.

”Kata pepatah kan sopo seng temen bakal tinemu (Jawa). Sama kayak man jadda wa jadda,” ungkap mahasiswa asal Lamongan itu.

”Soal penelitian saya, karena tentang transplantasi karang di laut, kendalanya adalah cuaca dan kondisi alam. Was-was kalau semisal rak transplantasi hilang kena ombak. Dan waktu penelitian bertepatan dengan musim hujan. Banyak air masuk dari daratan, air keruh akhirnya, was was juga kalau terumbu karang-nya mati,” tutur mahasiswa yang hobi nonton anime itu.

DEDDY Poerba Anggara (paling kanan) seusai diwisuda di Airlangga Convention Center, Kampus C, UNAIR. (Foto: istimewa)
DEDDY Poerba Anggara (paling kanan) seusai diwisuda di Airlangga Convention Center, Kampus C, UNAIR. (Foto: istimewa)

Pada akhir, Deddy sangat bersyukur bisa berkuliah. Terutama dengan beasiswa bidikmisi. Ke depan, dia berharap mampu memberikan kontribusi terhadap bangsa melalui proses belajar yang ditempuhnya selama ini. Terutama di bidang kelautan.

Penerima bidikmisi kayak saya ini, kuliah tidak bayar malah dibayari. Kalau tidak sungguh-sungguh, ya sama saja saya mengecewakan banyak orang, orang tua, dan negara,” katanya. (*)

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone