BEM UNAIR
Fahd Pahdepie menjadi pembicara dalam acara inspiring session Student Sociopreneur Camp 2018 bersama Nita Liana sebagai moderator. (Foto : Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Dalam pembukaan kegiatan Student Sociopreneur Camp (SSC) 2018 yang diadakan oleh BEM UNAIR 2018 bersama Yayasan Seribu Senyum pada akhir pekan lalun(9/9), Fahd Pahdepie diundang untuk sharing tentang pengalaman berwirausaha, khususnya tentang sociopreneur.

Dalam acara tersebut, pria yang akrab dipanggil Fahd tersebut menjelaskan, sosial entrepreneurship merupakan kewirausahaan yang memiliki dimensi sosial. Sebagaimana pola fikir wirausahawan, tambahnya, seorang sociopreneur harus berpikir bahwa bisnis yang akan dijalankan menjadi bisnis yang benar. Kemudian baru memikirkan aspek sosialnya. Sehingga, bisnis sosial itu dapat bertahap dan terus berjalan sebagai sebuah bisnis.

“Sebagai perumpamaan, kalau mau menolong seseorang yang tenggelam, maka kita harus tidak tenggelam dulu. Intinya, ketika kita mau menolong seseorang, kita harus berdaya terlebih dahulu,” terang Fahd.

Disamping itu, Fahd juga membagikan tips untuk memulai menjadi seorang sociopreneur. Pertama, menurutnya, sociopreneurship harus mengetahui apa yang kita lakukan dan tidak hanya coba-coba. Karena jika berbisnis dengan mengandalkan kata orang, maka bisnis yang dijalankan tidak akan berkembang.

“Seperti bisnis air mineral. Ketika terdapat sebuah tempat rekreasi dengan hanya satu kios yang ada disana, maka kita akan membeli air mineral yang ada dijual di kios tersebut dan akan membayar dengan harga yang bisa jadi tiga kali lipat lebih mahal dari harga air mineral biasanya. Kenapa? Karena pembeli itu butuh. Hal yang dijual dalam bisnis tersebut adalah value-nya,” jelas Fadh.

Kemudian, tips selanjutnya adalah mengetahui sasaran yang akan mengakses value tersebut. Contohnya, imbuh Fahd, ketika menjual pena di stasiun, jumlah pembelinya akan berbeda jauh dengan ketika menjual pena didepan kampus ketika akan dilaksanakan ujian masuk perguruan tinggi.

“Dan tips yang terakhir adalah menghubungkan nilai yang sudah kita miliki dengan segmen market tersebut,” tandasnya.

Penulis : Galuh Mega Kurnia

Editor : Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone