Pengmas
Warga belajar praktik pengemasan manisan sayuran setelah pemaparan materi. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS  – Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi lanjutkan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) bertajuk “Teknologi Produksi Manisan Sayuran Upaya Pemberdayaan Floripreneurship Paguyuban Ibu Rumah Tangga Di Daerah Pesisir Pantai Timur Surabaya, Jawa Timur” pada awal September ini (09/09).

Pada pertemuan kedua itu diikuti oleh Drs. Agus Supriyanto, M.Kes., Dr. Listijani Suhargo, Dra., M.Si., Tri Nurhariyati., S.Si., M.Kes., M. Hilman Fuadil A., S.Si., M.Si., Intan Ayu Pratiwi, S.Si., M.Si., Febri Eko Wahyudianto, S.T., M.T., Drs. H. Saikhu Akhmad H, M.Kes., dan Dr. Junairiah S.Si., M.Kes. sebagai ketua acara ini. Ibu-ibu kali ini diajarkan metode pengemasan manisan sayuran yang dibuat serta pembukuan sederhana. Hal itu adalah kelanjutan dari pertemuan sebelumnya yaitu pembuatan manisan sayuran.

“Metode pengemasan diajarkan supaya produk bisa tahan lama dan serta punya nilai jual tinggi. Selanjutnya ibu-ibu calon pengusaha ini harus bisa pembukuan agar tidak jadi minus modalnya,” jelas Saikhu saat membuka acara ini.

Pretest, seperti minggu lalu, dilakukan diawal sebagai pembuka pertemuan ini. Kemudian dilanjutkan materi yang pertama tentang metode pengemasan.  Intan sebagai pemateri menuturkan, pengemasan dapat dilakukan pada wadah kaca atahupun plastik dengan perlakuan yang berbeda.

“Kalau plastik sebagian besar sudah disterilkan oleh pabrik saat pembuatan sehingga manisan dapat langsung dikemas dalam wadah plastik . Berbeda dengan wadah yang terbuat dari kaca , sebelum dan sesudah memasukkan manisan, harus dikukus sekitar 15-20 menit atahu lebih juka ukuran panci besar”, tutur Intan.

Pengmas
Dosen Biologi FST UNAIR bersama tim binaan seusai pelatihan. (Foto: Istimewa)

Intan juga menjelaskan, Pengemasan yang tidak tepat akan mengubah tekstur dan kenampakan dari manisan, tak jarang juga dapat menimbulkan kontaminasi jamur atahu lendir akibat masuknya organisme asing. Serta Ibu-ibu disana dianjurkan memakai masker dan haircap untuk mencegah kontaminasi. Materi selanjutnya, pembukuan sederhana, dijelaskan oleh Junairiah.  Ibu-ibu diajak untuk merinci dengan menuliskan pemasukan dan pengeluaran uang yang dilakukan sehingga tidak terjadi kerugian dari modal awal.

“Tidak sedikit orang yang meremehkan. Sebenarnya sederhana yang penting ada masuk ada keluar. Kalau pembukuan kacau, tidak tercacat baik, dan untungnya sedikit bisa-bisa gulung tikar terjadi”, jelas Junairiah.

Junairiah menambahkan, pembukuan sederhana ini menjadi penting karena bisa membantu analisis usaha, memonitor uang yang ada serta tahu informasi transaksi keuangan. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 9 pagi ini dilanjutkan praktik pengemasan buah serta penilaian hasil manisan yag telah dibuat. Tak sampai disitu, sebelum diakhiri dilakukan posttest untuk mengetahui seberapa besar penyerapan materi yang didapat.

“Ibu-ibu disini sudah pintar semua, tinggal satu kali pertemuan lagi sebagai akhir harapannya pembuatan manisan sayuran ini dapat berjalan terus-menerus tidak hanya saat kegiatan ini berlangsung”, tutur Saikhu.

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone