DARI kanan, Dr. Purnawan Basundoro, M.Hum memaparkan buku berjudul Membangun Insfrastruktur, Memperkuat Ketahanan Ekonomi: Dinamika Kota Surabaya dan Jawa Timur sebagai Penyangga Ekonomi Bangsa di Bank Indonesia Surabaya. (Foto: Fariz Ilham Rosyidi)
DARI kanan, Dr. Purnawan Basundoro, M.Hum memaparkan buku berjudul Membangun Insfrastruktur, Memperkuat Ketahanan Ekonomi: Dinamika Kota Surabaya dan Jawa Timur sebagai Penyangga Ekonomi Bangsa di Bank Indonesia Surabaya. (Foto: Fariz Ilham Rosyidi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Ada beragam catatan yang merekam kegiatan perekonomian di Surabaya. Catatan yang sangat banyak tersebut, rupanya, belum banyak ditulis. Padahal, jika diteliti lebih mendalam, kota yang berkembang sejak masa kolonial itu telah menyintas perkembangan yang sangat pesat. Khususnya dalam bidang perdagangan dan industri hingga sekarang.

Dalam acara bedah buku bertajuk ”Membangun Insfrastruktur, Memperkuat Ketahanan Ekonomi: Dinamika Kota Surabaya dan Jawa Timur sebagai Penyangga Ekonomi Bangsa”, dihadirkan tiga pembicara pakar. Yakni, Dr. Purnawan Basundoro, M.Hum sebagai tim penulis buku; Prof. Ahmad Erani Yustika, staf khusus presiden bidang ekonomi; dan Prof. Nawiyanto, guru besar Sejarah Universitas Jember.

Acara pada Kamis (6/9) tersebut dihadiri sebanyak 212 peserta. Mereka berasal dari latar belakang budayawan, ahli heritage, akademisi, guru, dan generasi Bank Indonesia (GENBI). Acara tersebut Bertempat di Ruang Singasari, Lantai 5, Bank Indonesia Surabaya.

Dalam acara itu, Purnawan selaku pembicara pertama memaparkan bahwa sebelum buku tersebut jadi, dirinya bersama tim Bank Indonesia melakukan penelitian kepustakaan. Penelitian tersebut berjalan selama kurang lebih satu tahun. Dan, penulisannya membutuhkan waktu selama empat  bulan.

”Kami melakukan kajian pustaka untuk menjelaskan bagaimana peran Surabaya dari kajian yang telah ada. Setelah itu melihat arsip di Bank Indonesia, sejauh mana dapat menceritakan peran Kota Surabaya dalam bidang perekonomian pada masa lampau,” tuturnya.

Dosen yang mengajar mata kuliah sejarah ekonomi perkotaan itu menjelaskan, isi buku memaparkan bagaimana aspek strategis geostrategis atau geopilitik di Surabaya yang berada di tepi pantai. Tepatnya, yang memiliki pusat jalur transportasi hingga ke pedalaman (tengah Jawa Timur) dan memiliki kawasan hinterland (daerah pendukung) yang sangat subur.

”Dan yang paling utama dalam buku tersebut adalah bagaimana perkembangan ekonomi Surabaya dari waktu ke waktu. Di mana posisi Bank Indonesia yang dulu namanya de Javasche Bank (DJB) turut mendukung perekonomian Surabaya,” kata dosen yang mengagumi sosok Kuntowijoyo tersebut.

Atas penerbitannya, Purnawan berharap buku tersebut bisa menjadi salah satu referensi bagi kalangan praktisi. Khususnya bagi mereka yang membutuhkan materi perihal sejarah ekonomi Surabaya. Terlebih, mahasiswa yang mengambil mata kuliah sejarah perekonomian. (*)

 

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone