Peserta CS2 7.0 beserta panitia acara dan pembicara berfoto bersama usai seminar di Aula Soetandyo, Sabtu (8/9). (Foto: Wiwik Yuni Eryanti Ningrum)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

NEWS UNAIR –  Perkembangan digital yang pesat saat ini turut memengaruhi kebutuhan masyarakat akan akses internet. Internet menjadi sarana yang mampu menyebarkan opini dan saling mempengaruhi antar pengguna satu sama lain.

Di era ini juga, influencer adalah mediator yang dianggap mampu membentuk opini publik. Indikator menjadi influencer bukan hanya mereka yang memiliki banyak pengikut di media sosial, melainkan setiap orang yang memiliki kemampuan memberi pengaruh, serta menyebarkan dan membentuk sebuah opini.

Topik itulah yang dibahas dalam sebuah diskusi epik oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga melalui acara bertajuk Communication Student Summit (CS2).

Panitia acara Imastari Wulansuci mengatakan, CS2 merupakan agenda tahunan Himakom UNAIR. Tahun ini adalah tahun ketujuh CS2 digelar, dengan sebutan CS2 7.0. Seiring berjalannya waktu, CS2 menjadi sarana pertemuan dan diskusi mahasiswa Ilmu Komunikasi se-Indonesia.

Acara berlangsung Sabtu (8/9) di Aula Soetandyo, FISIP UNAIR, diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, siswa SMA, hingga beberapa perguruan tinggi di Jatim seperti Universitas Brawijaya (UB), Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (UNTAG), Universitas Kristen Petra, dan UNAIR.

Terdapat empat pembicara yang membahas bidang sesuai keahlian masing-masing. Ialah Vincent Ricardo seorang Youtuber dan Content Creator dan Yovantra dari media independen Remotivi. Keduanya membahas tentang influencer mainstream yang sering menerbitkan konten terkait komunikasi dan politik. Selain itu, keduanya juga membahas tantangan dan proses kreatif di balik konten-konten yang mereka produksi.

Pembicara selanjutnya adalah Eben Haezer, seorang jurnalis independen. Dalam kesempatan itu ia membahas tentang media massa serta bagaimana menjadi jurnalis yang tetap independen di antara media massa mainstream.

“Menjadi jurnalis independen merupakan ciri khas dan hal itu sangat penting. Sebab seorang jurnalis sangat berpotensi besar untuk membentuk opini publik,” jelas Eben.

Pembicara terakhir adalah Nisa Kurnia, dosen Departemen Komunikasi UNAIR. Dalam kesempatan itu ia membahas tentang literasi media di Indonesia serta respon masyarakat menanggapi berbagai opini yang ada di dunia maya.

Panitia acara berharap, ke depan acara CS2 bisa lebih baik dan lebih meriah. Serta, semangat CS2 sebagai ajang mempertemukan mahasiswa Ilmu Komunikasi se-Indonesia untuk dapat berdiskusi dan bertukar pikiran tetap berlangsung dan terjalin dengan baik. (*)

Penulis: Wiwik Yuni Eryanti Ningrum

Editor : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone