Desain: Feri Fenoria Rifai
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Setelah memutuskan untuk fokus dengan studi, Mery Retrofita Sari akhirnya lulus dan dinobatkan sebagai wisudawan berprestasi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR). Berbagai kejuaraan olah raga cabang panahan ia ikuti, baik regional maupun nasional. Telah banyak pula prestasi yang ia catat dari kejuaraan-kejuaraan itu.

Di antara deretan prestasi Mery antara lain Juara III Archery Team Competition Pekan Olahraga Provinsi V 2015, Juara III Individual Qualification Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah 2015, Juara I Archery Team Competition Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) 2015, Juara III Archery Team Competition 2nd Jogja Open Archery Competition 2017, dan yang terbaru Juara III Archery Team Competition 6th Surabaya International Archery Open Tournament 2017.

Dari rangkaian prestasi itu, diakui Mery, prestasi yang paling menonjol adalah keikutsertaannya dalam POMNAS tahun 2015 yang diselenggarakan di Aceh.

Diakui Mery, tidak ada kendala berarti yang ia dapatkan selama menempuh studi di Fakultas Psikologi UNAIR. Ia memiliki prinsip bahwa pendidikan adalah nomor satu. Namun, ketika ada pertandingan dan tugas kuliah datang secara bersamaan, mau tidak mau dia mengerjakan tugas kuliah usai pertandingan selesai.

“Saya takut untuk mengikuti banyak kegiatan kepanitiaan atau menjadi anggota BEM maupun BLM karena saya tidak ingin menggangu jadwal latihan dan juga kuliah saya,” ungkap Mery yang tehitung tiga tahun menjadi Badan Pengurus Harian (BPH) di UKM Panahan dan melatih para anggota UKM.

“Pada akhirnya saya mampu untuk menyelesaikan perkuliahan saya tepat waktu, dan yang harus saya korbankan adalah panahan saya karena saya hanya ingin fokus untuk mengerjakan skripsi agar bisa segera lulus,” tambahnya.

Sejak kejuaraan itu, kurang lebih setahun belakangan, Mery memutuskan untuk fokus dengan kuliahnya. Tak sia-sia. Ia mampu menyelesaikan studi tepat waktu yaitu 4 tahun, dengan perolehan IPK 3,42.

“Saya berhenti menembak selama 1 tahun dan terkadang saya merasa rindu untuk menembak, namun karena saya memiliki target lulus 4 tahun maka saya harus mengorbankan panahan untuk sementara waktu. Sekarang Alhamdulillah saya sudah menyelesaikan perkuliahan saya. Saya berharap untuk segera melakukan lagi olahraga panahan yang saya suka,” kenang gadis kelahiran 19 August 1996 itu. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone