Suasana seminar jurnalistik yang diadakan oleh BEM Fakultas Farmasi di FF Kampus B UNAIR (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – “Ingat, kalau para pahlawan berjuang dengan senjata, mahasiswa berjuang dengan penanya.” Demikian ujar Dr. Riesta Primaharinastiti S., Si., M.Si., Apt. Wakil Dekan 1 Fakultas Farmasi Universitas Airlangga membuka seminar jurnalistik Sabtu (1/9). Kalimat itu disusul riuh tepuk tangan dari 250 mahasiswa yang hadir.

Seminar jurnalistik itu mengundang Anda Marzudint redaktur media cetak Jawa Pos dan Becky Subechi koordinator foto Jawa Pos Group (JPG).

“Sebelum menemui narasumber, siapkan pertanyaan yang diperlukan dengan baik dan terperinci. Terpenting, lihatlah suasana hati narasumber dan gunakan kata yang sopan,” papar Anda memberikan tips sebelum memulai wawancara kepada narasumber.

“Menarik itu penting, berita penting itu perlu. Tapi, berita yang enak dibaca lebih diperlukan,” tambah Anda, redaktur halaman Sidoarjo, Gresik, Metropolis Lifestyle, Metropolis Pendidikan, dan For Her.

Selain naskah, pesan berita dapat disampaikan melalui foto pendukung. Foto jurnalistik adalah foto yang mampu menekankan pada pesan. Artinya, jika seseorang menciptakan foto jurnalistik, berarti ia melakukan komunikasi melalui karyanya.

“Bukan hanya manusia yang berbicara, tetapi foto pun bisa berbicara. Karena sebagai fotografer jurnalistik, sebuah objek diperhatikan sebagai subjek,” ujar Becky.

Dalam foto jurnalistik, terdapat tahapan pemotretan dengan subjek, fakta, maupun peristiwa. Sebelum melakukan pengambilan gambar, terlebih dahulu tentukan pesan atau tema foto. Selanjutnya, tentukan point of interest dengan memilih subjek pendukung. Sebelum melakukan eksekusi foto, tentukan teknik fotografinya.

Angle diperlukan dalam pemotretan fotografi jurnalistik. Pertama, posisi high angel untuk memperlihatkan suasana secara utuh. Kedua, posisi low angle untuk memberikan kesan kokoh. Ketiga, posisi normal angle atau eye level untuk menonjolkan detail subjek.

Becky menambahkan, waktu ideal melakukan pemotretan yaitu dengan memanfaatkan cahaya matahari. Pagi hari sekitar pukul 06.00 – 07.30, dan sore hari sekitar pukul 15.30 – 17.00. Dalam sisi pemotretan, lanjut Becky, harus menghindari backlight kecuali untuk silhouette. Perlu diperhatikan, kemampuan blitz menyinari obyek kamera pocket maksimal tiga meter. Lalu, untuk pemotretan suasana ruangan, hindari penggunaan flash. (*)

Penulis : Rolista Dwi Oktavia

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone