Oleh-oleh ‘Cikgu’ Mahasiswa UNAIR, Belajar Arti Perjuangan Hidup dari Anak-anak TKI di Malaysia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
cikgu unair
KETERBATASAN tak menghalangi para TKI dan anak-anaknya di pedalaman Sarawak, Malaysia, untuk melaksanakan upacara memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-63, 17 Agustus 2018 lalu. Sang Merah Putih hanya dibentangkan lalu dilakukan penghormatan dan menyanyikan Indonesia Raya. Kegiatan ini dipimpin para cikgu yang mengabdi dalam program VTIC. (Foto: Dok Riska Maulani)

UNAIR NEWS –  Dua mahasiswa jurusan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga, Muhammad Kholil dan Riska Maulani, yang lolos seleksi menjadi cikgu (guru) di Malaysia, kini sudah kembali ke tanah air.

Selama sebulan pada Agustus 2018 lalu mereka mengabdi mengajar untuk anak-anak TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Negeri Jiran itu dalam program Volunteerism Teaching Indonesian Children (VTIC). VTIC merupakan kerjasama antara Kedubes RI di Malaysia dengan Konsulat Jenderal RI di Kuching.

”Kami mengakhiri sebagai cikgu 25 Agustus dan kembali ke Indonesia 27 Agustus lalu. Kami menutup kegiatan VITC dengan penuh haru pada acara Jaim-Zora (Jambore Anak Indonesia di Malaysia Zona Sarawak). Ditengah api unggun malam itu kami berpamitan, memohon maaf atas kekurangan yang mungkin terjadi, kami saling berpelukan dengan derai tangis dan haru berbalut untaian doa-doa,” kata Riska Maulani kepada unair.news via surat elektroniknya.

Pada hari-hari terakhir sebagai cikgu itu, Riska dkk bersama perwakilan Telabit hadir ke lokasi Jaim Zora. Acara meriah ini juga dihadiri perwakilan KBRI Kuala Lumpur dan KJRI Kuching beserta beberapa pimpinan perusahaan. Permainan jelajah alam dan pertunjukan seni menjadi agenda dalam Jaim Zora. “Semua itu menjadi kenangan yang mengharukan,” kata Riska mengenang.

cikgu unair
RISKA Maulani, mahasiswa FST UNAIR (berkain batik, jongkok ketiga dari kanan) bersama cikgu lainnya dan para siswa anak-anak TKI, seusai upacara bendera. (Foto: Istimewa)

Seperti diketahui, cikgu Kholil dan Cikgu Riska, dua Ksatria Airlangga yang peduli dengan pendidikan anak-anak TKI di Malaysia itu berangkat ke Malaysia pada 6 Agustus 2018 lalu bersama rombongan VTIC lain dari Indonesia. Keduanya membawa sejumlah donasi yang mereka kumpulkan berupa iqro, alat tulis, dan berbagai media pembelajaran. Peresmian VTIC sebagai cikgu TKI itu dibuka oleh Kepala Kedutaan Besar RI di Malaysia, Purbayanto.

”Saya sangat mengapresiasi mahasiswa-mahasiswi yang mau membantu pendidikan anak Indonesia di Malaysia. Hal ini mengingat pendidikan anak-anak TKI ini dirasa sangat kurang,” kata Purbayanto, dalam sesi sharing di KBRI Kuala Lumpur.

LIKU-LIKU SEBAGAI CIKGU

Dikisahkan Riska, mahasiswa semester akhir FST UNAIR ini, liku-liku pengabdiannya di Negeri Jiran itu demi anak Republik ini. Penerbangan dari Jakarta menuju Kuala Lumpur hingga peresmian dilaluinya dalam sehari. Dilanjut penerbangan menuju wilayah Miri, Selasa (7/8). Dari Bandara Miri dilanjutkan perjalanan menuju lokasi Community Learning Center (CLC) di Sarawak menggunakan bus selama sekitar 3 jam.

”Sesampai di CLC Ladang 3 kami bertemu dengan cikgu-cikgu yang ada di setiap CLC. Perlu diketahui CLC ini merupakan tempat belajar anak-anak TKI yang difasilitasi oleh perusahaan sawit setempat,” terang Riska Maulani.

Sebanyak 46 cikgu dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dibagi dalam 16 CLC. Dua Ksatria Airlangga ditugaskan di CLC berbeda. Cikgu Kholil di CLC Ladong Simunjun, dan Cikgu Riska di CLC Telabit. Antar CLC berjarak sekitar 2-14 jam perjalana. CLC Ladong merupakan CLC terjauh dari tempat berkumpul, yakni perjalanan 14 jam. Meski demikian tak menyiutkan semangat Moch Kholil dalam berbagi dan mencerdaskan anak bangsa.

CLC Ladong ini tergolong baru, siswa-siswinya masih anak-anak kecil. Sehingga dua cikgu ditugaskan disini, yaitu Cikgu Kholil dari Universitas Airlangga dan cikgu Danu dari Universitas Mataram (Unram) Lombok. CLC Ladong ini berada di tengah arena perkebunan kelapa sawit, jumlah siswanya 50 anak baik kelas 1 sampai kelas 6 SD dan disana ada tiga orang guru.

”Pesan saya, sangat bersyukurlah bagi kita yang berada di negeri sendiri, di Indonesia,” ucap Cikgu Riska. Di tempat ia mengajar, CLC Telabit, terdapat sekitar 60 rumah dengan bangunan yang sama.  Fasilitas air dan listrik disediakan gratis oleh perusahaan sawit. Namun, air bersih hanya mengalir selama 3-4 jam selama dua hari sekali. Catu listriknya juga dijatah. Listrik menyala pada pukul 04.00 hingga 06.00 dan pukul 18.00 sampai 21.00. Selebihnya listrik mati. Namun, kondisi demikian itu bukan halangan besar bagi mereka.

Di CLC Telabit ini terdapat 55 siswa, mulai siswa kelas 1 SD hingga kelas 3 SMP, dan hanya ada satu guru pamong. Karena itulah di CLC Telabit ini diberikan 6 orang cikgu, yakni Riska Maulani dari Universitas Airlangga, Muti dari Universitas Indonesia (UI), Bilqis dari Universitas Diponegoro, Linda dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Widya dari Universitas Negeri Malang (UM), dan Cikgu Dhanti dari Universitas Tanjung Pura, Pontianak.

”Kami berenam itu bertugas di sekolah bersama Cikgu Silvi dan Pacci (suami isteri – red). Keadaan ini yang memudahkan kami dalam melaksanakan tugas mengajar, karena para siswa yang akan datang ke sekolah, tempat tinggal kami,” tambah Riska.

AIR MATA HARU

Keesokan harinya, Rabu (8/8) para cikgu memulai tugasnya –belajar mengajar– dengan riang. Memulai dengan menyanyikan lagu-lagu inspiratif, dan bermain sambil belajar. Siswa memanggil para relawan ini dengan sebutan cikgu. Di CLC itulah diajarkan membaca, berhitung, menulis, seni, agama dan lain-lain sebagaimana sekolah formal di Indonesia.

cikgu unair
SISWA-siswi dari anak-anak para TKI di CLC Ladong Simunjun, Sarawak, Malaysia, tempat Moh. Kholil (jas biru, kedua dari kanan) yang mengabdi sebagai cikgu mengajak anak-anak TKI. (Foto: Istimewa)

Lalu mengadakan agenda Lomba Kompetisi Sains Seni dan Olahraga (KS20) meliputi lomba sains dan matematika tingkat SD-SMP, lomba mewarnai tingkat SD, lomba pidato tingkat SD, lomba menari tingkat SD-SMP, dan lomba menyanyi tingkat SD-SMP.

”Sebagai Mahasiswa Fisika UNAIR saya syukur dapat berbagi ilmu dan menjadi pembimbing pada dua kategori lomba KS2O, yaitu cabang sains tingkat SMP. Dan terasa haru rasanya ketika bimbingan saya, Fitri berhasil menjadi juara II dalam lomba sains se-Sarawak. Pulang berhasil membawa tropi dan membanggakan CLC Telabit,” kata Riska bangga.

Pada kegiatan lomba tersebut, CLC Telabit berhasil membawa 4 tropi; yakni Juara II Lomba Sains tingkat SMP, Juara II Lomba Menyanyi Tingkat SD, Juara III Lomba Catur Tingkat SMP, dan Juara II Lomba Bulutangkis putri. Sedangkan CLC Ladong tempat Cikgu Kholil mengajar tidak mengikuti lomba karena terkendala jarak yang sangat jauh.

Kemeriahan lomba KS2O kemudian berlanjut persiapan menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI. Karena meski di perantauan, anak-anak TKI juga memperingatinya dengan upacara bendera, meski dilakukan hanya dengan membentangkan sang saka Merah Putih, dan bukan mengibarkannya. Air mata tak terasa jatuh tatkala kami menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Tanah Airku.

Tanah Air Ku Tidak Kulupakan // Kan Terkenang Selama Hidupku

      Biarpun Saya Pergi Jauh // Tidaklah Hilang Dari Kalbu

      Tanahku Yang Kucintai // Engkau Kuhargai.

      Walaupun Banyak Negri Kujalani // Termasyur Permai Dikata Orang

      Tetapi Kampung dan Rumahku // Disanalahku Mrasa Senang

      Tanahku Tak Kulupakan // Engkau ku Banggakan.

Mendengar alunan syair itu, rasa haru benar-benar menyayat kalbu. Ingat kampung halaman. Bisa juga efek menjadi warga minoritas di negeri orang. Tetapi, HUT RI Ke-63 itu dirayakan sangat meriah; diisi dengan berbagai lomba yang menghibur. Anak-anak para TKI tampak sangat menikmatinya. Terutama saat sore hari dilakukan karnaval melewati beberapa pos sampai pembagian hadiah lomba.

Apalagi, lima hari setelah peringatan HUT RI itu kemudian Hari Besar Islam, Idul Adha. Setelah sholat Maghrib para cikgu berharap-harap cemas akan ada takbir berkumandang. Benar juga, setelah sholat Isya’ takbir dan tahmid pun berkumandang.

”Kami berenam segera lari ke depan sekolah, memandang surau dan menujunya untuk mengikuti takbir. Sayangnya, takbir itu hanya berlangsung selama sekitar 30 menit, dan keesokan harinya kami sholat Ied di surau bersama pekerja ladang sawit yang hari itu libur,” tambah Riska Maulani.

Menurut penduduk, sudah bertahun-tahun di Telabit ini tidak pernah ada penyembelihan hewan kurban. Hal itulah yang membuat para cikgu terasa sedih. Tetapi kebiasaan unik terjadi disana. Para cikgu berkeliling ke beberapa rumah murid-muridnya. Di rumah para TKI itulah biasanya menyiapkan makanan olahan daging kambing dan atau daging sapi.

”Tidak terasa kami telah melakukan pengabdian selama kurang lebih 3 minggu, dan hampir mendekati hari kepulangan ke Indonesia. Sebelum mengakhiri pengabdian itulah kami menyiapkan Jambore Anak Indonesia di Malaysia Zona Sarawak (Jaim-Zora),” kata Riska.

Jaim Zora dilaksanakan pada tanggal 25 Agustus 2018, di Ladang Lavang, yang jaraknya perjalanan tiga jam dari Telabit. Dari wilayah CLC-nya, Riska memberangkatkan 6 orang siswa putra dan 6 siswa putri untuk mewakili Telabit di Jaim Zora. Sedang dari CLC Ladong, tempat Kholil mengabdi, karena keterbatasan siswa sehingga hanya mengirimkan 5 orang siswa.

Satu keunikan dari para siswa adalah memberikan oleh-oleh berupa bahan minuman dalam kemasan sachet untuk cikgu-cikgu-nya. Hampir setiap anak membawa 2-4 bungkus. Perpisahan pun dilakukan oleh para cikgu. Disanalah suasana haru, tangis sedih dan untaian air mata, tak bisa dielakkan.

Sebuah untaian doa membahana di arena api unggun Jaim Zora itu. ”Anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Kamu dan Aku Telah Dipertemukan untuk Saling Menginspirasi dan Belajar. Dariku, Mungkin Sedikit Ilmu yang Bisa Diambil. Namun Darimu Telah Banyak Arti Pejuangan Hidup yang Aku Pelajari.” Selamat berjuang anak-anak keluarga TKI. (*)

Editor : Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu