TASYA Kamila (kanan) menjadi guest star dalam acara BEAUTYVERSITY Training Public Speaking yang diadakan KementErian Pemberdayaan Perempuan (PP) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga di Aula Kahuripan Kampus C pada Sabtu (1/9). (Foto: Istimewa)
TASYA Kamila (kanan) menjadi guest star dalam acara BEAUTYVERSITY Training Public Speaking yang diadakan KementErian Pemberdayaan Perempuan (PP) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga di Aula Kahuripan Kampus C pada Sabtu (1/9). (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Tasya Kamila, artis cilik yang kini tumbuh menjadi perempuan ayu dan pintar ini, rupanya, telah menjadi inspirasi bagi banyak perempuan lainnya. Tasya yang lulus dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, meneruskan pendidikannya di Columbia University, Amerika Serikat setelah memperoleh beasiswa S2 dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Di sana, Tasya mengambil jurusan public administration dengan konsentrasi environmental policy and management. Saat ini dia telah lulus dengan mengantogi grade point average (GPA) di atas 3,7.

Saat menjadi mahasiswa di Columbia University, Tasya sempat terlibat dalam dua forum PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa, United Nations). Yakni, Forum Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC) dan menjadi moderator dalam Winter Youth Assembly di New York.

Berbagai prestasi yang dimiliki Tasya menjadikan dirinya diundang sebagai guest star dalam acara BEAUTYVERSITY Training Public Speaking yang diadakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan (PP) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga di Aula Kahuripan Kampus C pada Sabtu (1/9).

Dalam sharing session, Taysa menceritakan perjalanannya selama menjadi mahasiswa di Amerika. Sharing session tersebut dimoderatori Adinda Putri, mahasiswa yang juga menjadi Miss Earth Indonesia Animal Welfare 2018.

Tasya menjelaskan bahwa sebelum terpilih menjadi peraih beasiswa LPDP, dirinya terlebih dahulu menyiapkan persyaratan administrasi seperti formulir dan dokumen-dokumen pendukung (ijazah, surat sehat, dan lain-lain). Termasuk esai mengenai sukses terbesar dalam hidup, kontribusi untuk Indonesia, serta rencana studi.

Public speaking juga butuh karena di seleksi substantive, ada tahap wawancara. Kemudian, kalau mau lanjut kuliah dari awal untuk set timeline, lengkapi persyaratan kampus dan persyaratan beasiswanya,” ujar Tasya.

Ditanya mengalami pengalamannya hidup di luar negeri, Tasya menngakui bahwa tantangan hidup di negeri orang sudah pasti ada. Terlebih sejak dulu dia sekolah. Di sekolahan reguler yang artinya kulturnya berbeda dengan di sana.

”Nilai positif yang bisa di dapat saat di sana adalah kita menjadi tahu seberapa jauh kita bisa di push. Serta mengetahui kelemahan dan kelebihan kita. Bisa diartikan lebih mengenal diri-sendiri. Tentu saat di sana aku lebih mandiri,” pungkasnya. (*)

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone