Sumber: alodokter.com
Sumber: alodokter.com
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Hal yang sering diabaikan saat perayaan Idul Adha adalah higienis serta sanitasi dalam pengolahan daging kurban. Bukan hanya kebersihan dari tempat pengolahan, tapi juga kebersihan dan kualitas daging kurban yang diperoleh juga harus diperhatikan.

Penanganan, pengolahan, dan penyimpanan daging kurban harus dilakukan dengan benar dan aman agar tidak menimbulkan gangguan penyakit. Pengolahan daging dengan benar dapat meminimalkan pertumbuhan kuman dan bakteri pada daging.

Mengenai hal itu, UNAIR NEWS merangkum beberapa tips cara mengolah dan menyimpan daging yang sesuai dengan prinsip kesehatan. Yakni, dari paparan narasumber Septa Indra Puspikawati, S.KM., M.PH., dosen Departemen Gizi Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR). Berikut tipsnya.

1. Memastikan bahwa daging yang diterima dalam keadaan segar dan bersih

Memastikan bahwa daging yang diterima dalam keadaan segar dapat dilakukan dengna melihat warna daging. Pastikan bahwa daging tidak berwarna cokelat gelap dan berlendir. Sebelum dan sesudah memegang daging, pastikan sudah mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

”Cuci peralatan sebelum dan sesudah mengolah daging. Gunakan peralatan (misalnya pisau dan telanan, Red) yang berbeda dengan yang digunakan untuk mengolah sayur serta buah. Penggunaan alat secara bersamaan dapat mengakibatkan kontaminasi atau penyebaran bakteri,” tambahnya.

2. Mencuci daging dengan benar

Jika hendak memasak daging beku dari freezer, jangan mencairkan daging dengan air panas. Sebab, itu dapat merusak kandungan gizi dari daging. Taruh daging beku yang masih dalam wadah plastik di bawah aliran air keran suhu normal. Jika sudah empuk, daging baru cuci, tiriskan. Dan, kemudian daging siap untuk diolah.

3. Pastikan suhu tepat

Masak daging dengan suhu yang tepat. Daging yang diperoleh bila dimasak dengan cara digiling, masak dengan suhu minimal 71,1ᵒC. Namun, jika utuh, masak daging dengan suhu minimal 62,8ᵒC.

Suhu pemasakan daging giling lebih tinggi daripada daging utuh. Sebab, kemungkinan bakteri pada daging giling tercampur pada seluruh bagian, tapi daging utuh hanya dipermukaan. Daging utuh, jika sudah matang, jangan langsung dimakan. Namun, daging utuh harus didiamkan kurang lebih tiga menit untuk membunuh bakteri.

Sementara itu, jika memiliki kelebihan daging mentah, cara sebagai berikut bisa diterapkan. Khususnya untuk menjaga kualitas daging.

Jika mendapatkan daging mentah yang hendak disimpan, jangan mencuci daging mentah tersebut dengan air kran. Sebab, hal itu dikhawatirkan dapat mengakibatkan daging terkontaminasi bakteri dari air kran. Akibatnya, daging menjadi lebih mudah busuk.

”Langkah yang dapat dilakukan adalah membuang bagian daging yang kotor tanpa mencucinya dengan air dan cuci daging ketika hendak dimasak saja. Daging tersebut dapat bertahan dengan aman selama tiga hari jika disimpan di kulkas sejuk dengan suhu 1,1 derajat Celcius. Namun, jika ingin menyimpan lebih lama bisa dengan dibekukan di freezer,” tambahnya.

Pembekuan daging di freezer dapat dilakukan dengan suhu mendekati 17,8 derajat Celcius. Jadi, daging dapat bertahan 3–12 bulan, bergantung pada bagian yang disimpan.

Penyimpanan tersebut harus menggunakan wadah yang kedap udara. Termasuk memberi label pada daging. Jadi, Anda mengetahui kapan kali pertama daging tersebut dimasukkan ke kulkas atau freezer.

”Jika mendapat daging 2–4 Kg jangan langsung dimasukkan ke freezer begitu saja. Potong kecil-kecil kemudian masukkan ke plastik ukuran  setengah Kg, baru dimasukkan ke freezer. Ambil satu per satu kantong jika hendak dimasak, bergantung kebutuhan. Selebihnya biarkan tetap di freezer. Jika disimpan seperti ini, daging dapat bertahan disimpan hingga periode satu tahun,” katanya.

”Sebelum dimasukkan ke freezer, biarkan daging di kulkas sejuk dulu selama 4–5 jam. Tujuannya adalah menyesuaikan suhu daging perlahan. Baru kemudian pindahkan ke freezer agar kandungan gizinya tetap terjaga,” tambahnya. (*)

 

Penulis: Siti Mufaidah

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

 

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone