UNAIR Jadi Universitas Pertama yang Kelola Dana Wakaf

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
TIM Pusat Pengelolaan Dana Sosial (PUSPAS) UNAIR bertemu dengan pejabat Badan Wakaf Indonesia (BWI) di Jakarta pada Kamis (23/8) (Foto: PIH UNAIR)
TIM Pusat Pengelolaan Dana Sosial (PUSPAS) UNAIR bertemu dengan pejabat Badan Wakaf Indonesia (BWI) di Jakarta pada Kamis (23/8) (Foto: PIH UNAIR)

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga kembali membukukan sejarah. Badan Wakaf Indonesia (BWI) mengeluarkan surat keputusan persetujuan pengelolaan wakaf kepada UNAIR pada Kamis (23/8/2018) di Jakarta. Lebih tapatnya melalui Pusat Pengelolaan Dana Sosial (PUSPAS) UNAIR. Persetujuan tersebut menjadikan UNAIR sebagai perguruan tinggi pertama sekaligus satu-satunya pengelola wakaf.

BWI Pusat membacakan keputusan bahwa UNAIR disetujui menjadi nazhir (pengelola wakaf) melalui PUSPAS (Pusat Pengelola Dana Sosial) UNAIR. Persetujuan tersebut menjadi dasar UNAIR diizinkan mengelola wakaf dan PUSPAS sebagai pelaksana.

Dihubungi perihal informasi tersebut, Ketua PUSPAS UNAIR Dr. Tika Widiastuti, SE., M.Si., mengakui bahwa dirinya bersama tim yang meliputi Dr Wisudanto sebagai sekretaris PUSPAS UNAIR dan Dr. Sulistya selaku Kepala Divisi Pengembangan, langsung berangkat ke Jakarta pada Kamis (23/8). Terutama untuk memenuhi undangan BWI Pusat.

”Jadi, kami langsung berangkat hari ini (Kamis, Red) untuk bertemu dengan BWI dan menerima keputusan bersejarah ini. Ketua Umum BWI itu adalah M. Nuh yang juga mantan Menteri Pendidikan,” ujarnya.

Dengan keputusan itu, UNAIR secara sah dan berkuatan hukum menjadi perguruan tinggi pertama yang disetujui menjadi Nazhir Wakaf atau pengelola wakaf. Capaian itu menjadi sangat istimewa. Mengingat, itu yang belum dicapai Univeitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), maupun Universitas Gadjah Mada (UGM). Termasuk kampus-kampus yang lain.

”Dengan status baru tersebut, mulai saat ini UNAIR sudah langsung bisa mengelola dana wakaf yang diterima. Dengan ini UNAIR sudah bisa menerima donasi cash waqf (wakaf uang),” tambah Dr. Tika.

Atas capaian tersebut, Dr. Tika berharap target UNAIR masuk 500 world class university (WCU) dapat di-support dengan dana wakaf. Selain itu, dengan ditunjang sebagai perguruan tinggi pertama yang nazhir/pengelola wakaf, UNAIR semakin bisa dipercaya alumni dan stakeholder lainnya untuk berwakaf ke UNAIR. Khususnya dalam upaya mendukung proses-proses pendidikan.

Sementara itu, dalam kesempatan yang berbeda, Divisi Pembinaan dan Pemberdayaan Nazir BWI Hendri Tanjung turut mengungkapkan harapan yang sangat besar dengan ditunjuknya UNAIR sebagai universitas pengelola wakaf yang pertama. Sebab, esensi utama dari wakaf ini memang adalah pendidikan. Karena itu, keterlibatan UNAIR sebagai salah satu perguruan tinggi terbesar di Indonesia menjadi sesuatu yang sangat penting.

Mengingat, lanjut Hendri, pendidikan sangat penting bagi sebuah peradaban bangsa. Sepatutnya hal itu memang didukung banyak pihak.

”Sebab, dalam Islam pendidikan menjadi bukan kebutuhan sekunder, melainkan menjadi kebutuhan primer,” ujarnya.

”Terlebih lagi, UNAIR merupakan salah satu universitas yang memiliki ribuan mahasiswa aktif dan ratusan ribu alumni. Tentu ini juga akan luar biasa sekali. Jadi, saya berharap semangat UNAIR untuk menjadi pengelola dana wakaf ini bisa bertahan sampai akhir jaman dan menjadi tauladan bagi kampus-kampus yang lain,” tambahnya.

Menanggapi persetujuan BWI itu, mewakili rektor, Ketua Pusat Informasi dan Humas Dr. Suko Widodo, menyampaikan bahwa keputusan Badan Wakaf Indonesia itu, selain amanah, juga menjadi motivasi UNAIR untuk terus mengembangkan usaha-usaha sosial. Khususnya kegiatan sosial yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan mahasiswa. (*)

 

Penulis: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu