Cerita Mahasiswa Ilmu Sejarah Ikuti Kejuaraan Game di Italia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
MUHAMMAD Adib Abidin (paling kiri) saat mengikuti kejuaran gam PES dunia di Italia. (Foto: Istimewa)
MUHAMMAD Adib Abidin (paling kiri) saat mengikuti kejuaran gam PES dunia di Italia. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Banyak yang mengira bermain game hanya menghabiskan waktu dan biaya. Ditambah dengan adanya kecanduan dari pemainnya, hal itu membuat game seolah hanya berdampak negatif bagi kehidupan sehari-hari.

Anggapan tersebut tidak selamanya benar. Ternyata game juga bisa dimanfaatkan ke ladang yang positif. Misalnya, mengikuti turnamen internasional yang bisa mengantarkan penggunanya pergi ke luar negeri.

Muhammad Adib Abidin, mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR membuktikannya lewat ajang I Got Game Pes Competition 2018. Yakni, sebuah ajang game sepak bola internasional yang disponsori Supersoccer. Dia berhasil mewujudkan impiannya pergi ke Italia dengan menjuarai kompetisi game tersebut.

Selama di Italia, Adib menjelaskan bahwa dirinya bertanding bersama 16 orang dari tiga negara. Ada pelatih game, yaitu legenda sepakbola seperti Ivan Cordoba (Inter Milan), John Riise (Liverpool), Roy Parlour (Arsenal), dan Caseraghi (Juventus).

Adib bertanding dua sesi, individu dan tim. Ketika bermain individu, dia juara. Dan, ketika bermain tim, dia hanya sampai semifinal.

Metode Sejarah sebagai Strategi

Menurut Adib, dirinya menjuarai kejuaran tersebut bukan tanpa persiapan dan strategi. Dia menggunakan disiplin keilmuwannya, ilmu sejarah, sebagai senjata untuk mengalahkan lawan-lawannya di game.

”Dalam menulis sejarah kan ada 5 tahap; (pemilihan) topik, heuristik (pengumpulan sumber), verifikasi (kritik sumber), interpretasi (penafsiran), dan historiografi (penulisan). Ini bisa disinergikan dengan strategi game,” sebutnya

Pemilihan topik adalah melakukan pemilihan tim sebelum pertandingan. Fungsinya, menentukan kedekatan emosional dengan teman bermain agar tercipta kesan nyaman.

Heuristik dan verifikasi, yaitu mengumpulkan sumber dengan menggali informasi kekuatan musuh. Tujuannya, mengetahui kedalaman squad (tim) lawan.

Interpretasi adalah melakukan strategi untuk melawan musuh bermain. Strateginya dengan cara mengubah short pass atau long pass. Begitupun sebaliknya. Historiografi, yaitu bermain dengan stategi yang disusun sejak awal.

”Saya melakukan strategi ketika bermain dengan lawan itu sudah punya fondasi (metode sejarah, Red). Jadi, nggak asal-asalan sewaktu bermain,” ujar mahasiswa pehobi futsal itu.

Mengenai kesan menarik selama mengikuti kompetisi tersebut, menurut Adib, terjadi ketika diwawancara media setempat. Dia bertemu Stil Shadey.

”Saya di sini cuma diundang untuk bermain game bola. Tapi, saya melihat semangatmu dalam bertanding bukan hanya dengan jari, tapi juga dengan hati,” ujar Adib menirukan Stil.

Selain berkompetisi, Adib berlibur dengan berkunjung ke Stadion San Siro Ac Milan, Allianz Stadium Juventus. Termasuk pergi ke tempat-tempat bersejarah di Italia.

Terakhir, Adib berpesan kepada para generasi muda, khususnya mahasiswa, agar tidak harus mencontoh apa yang dilakukannya. Namun, Adib menekankan untuk terus mencoba dan menekuni apa yang menjadi minat.

”Saya punya prinsip hidup selalu mencoba. Saya terus menekuninya. Sebab, saya sudah berpuluh-puluh kali gagal di game PES sampai berhasil (ke Italia, Red) seperti sekarang,” tuturnya.

Sebagai informasi, game seperti ini juga sudah menjadi salah satu cabang olahraga di Asian Games Jakarta dan Palembang. Salah satunya adalah PES. (*)

 

Penulis: Faris Ilham R.

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu