Angkat “Barbie” di Tiga Cerpen, Dosen Sasindo UNAIR Juarai Kritik Sastra Jawa Timur

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
BRAMANTIO (berbaju batik coklat) menerima penghargaan Juara I Kritikus Sastra Festival Dewan Kesenian Jawa Timur di Pendopo Cak Durasim Surabaya. (Foto: Istimewa)
BRAMANTIO (kanan) menerima penghargaan Juara I Kritikus Sastra Festival Dewan Kesenian Jawa Timur di Pendopo Cak Durasim Surabaya. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Perhatian terhadap tumbuh kembangnya kritik sastra dewasa ini tidak berbanding lurus dengan karya sastra. Alasan mendasar itulah yang membuat Bramantio S.S., M.Hum., Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (Sasindo) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga menuliskan kritik sastra di majalah Suluk yang sudah diterbitkan pada 2012.

Dari kritik sastra tersebut, Bramantio berhasil menyabet juara I kritik sastra yang diselenggarakan  Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) 2018. Penyerahan penghargaan itudigelar di Gedung Cak Durasim Surabaya Selasa, (14/8).

Sebelum melakukan kritik sastra itu, Bramantio membaca cerpen periode 2000-an. Dia membaca cerpen Barbie karya Clara Ng, Bercinta dengan Barbie karya Eka Kurniawan, dan Barbie dan Monik karya Teguh Winarsho.

Menurut Bram, sapaan akrabnya, ketiganya memiliki struktur penceritaan yang menggambarkan Barbie dengan kesempurnaan yang tidak mungkin disamai perempuan mana pun. Sebab, itu menjelaskan perempuan yang dipandang sebagai sosok ideal, artifisial, dan fisikal yang mengalahkan perempuan riil, nyata.

Dosen yang menyukai karya Ayu Utami, Dewi Lestari, dan Eka Kurniawan tersebut menerangkan bagaimana melakukan kritik sastra. Yakni, dengan membaca karya sastra, khususnya cerita pendek (cerpen).

”Semakin sering teks kita baca (cerpen, Red), interpretasi akan semakin kuat. Jadi, kita punya karakter dan punya cara tersendiri untuk melakukan kritik sastra sesuai dengan strukturnya” terangnya.

”Dan yang terakhir, menyiapkan buku atau karya untuk dikritik. Saya pilih karya yang tidak habis dalam satu kali baca. Kemudian, jika menimbulkan pertanyaan, saya cari maknanya, ideologi apa yang diusung. Setelah saya tahu, saya akan menuliskannya,” tambahnya.

Terakhir, Bramantio berharap apa yang dilakukan Dewan Kesenian Jawa Timur bisa menumbuhkembangkan apresiasi kepada penulis atau kritikus sastra. Khususnya di lingkungan kampus FIB UNAIR. (*)

 

Penulis: Fariz Ilham R

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu