Widy (tengah) bersama tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan di Lampung. (Foto: Istimewa)
Widy (tengah) bersama tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan di Lampung. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook7Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Ada banyak cerita jika mengulas berbagai hal mengenai Kuliah Kerja Nyata (KKN), terutama di daerah terluar dan terpencil. Tak terkecuali KKN Kebangsaan. Tahun ini Universitas Airlangga memberangkatkan 15 delegasi untuk mengikuti KKN Kebangsaan di Lampung sejak 23 Juli hingga 25 Agustus.

Widyanti Wibowo menjadi salah satu yang beruntung untuk mengikuti kegiatan tersebut. Mahasiswa Fakultas Hukum UNAIR itu turut membagikan pengalamannya saat menjalani KKN di Desa Tirtakencana, Kecamatan Tulang Bawang tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung.

Menurut Widy, persoalan di Desa Tirta kencana adalah terkait pemuda dan keamanan. Tidak banyak pemuda-pemudi di sana yang memiliki semangat berpendidikan. Terutama berkeinginan untuk melanjutkan ke jenjang sekolah menengah atas (SMA), termasuk kuliah. Selain itu, pernikahan usia dini juga menjadi hal yang tidak dapat dihindari bagi perempuan di sana.

”Sebenarnya di sini dapat dibilang daerah yang aman dan sudah ada siskamling. Tapi, itu sudah jarang dilakukan. Sampai baru-baru ini terjadi pencurian. Di sini, kami berusaha menggalakkan kegiatan siskamling lagi agar kejadian itu tidak terulang,” tuturnya.

Untuk menanggulangi berbagai persoalan tersebut, Widy beserta rekan-rekannya membuat beberapa program kerja (proker). Misalnya, penyuluhan kanker serviks dan edukasi terkait pelaporan pencurian yang bekerja sama dengan pihak kepolisian setempat.

Bukan hanya itu, di tempat KKN, Widy menemukan beberapa perbedaan antara Lampung dan Surabaya. Mulai tidak adanya lampu penerangan jalan hingga infrastruktur yang kurang.

”Di sini tergolong desa yang tidak tertinggal banget sebenarnya. Dari segi fasilitas dan infratruktur juga belum memadai. Beberapa jalan itu masih tanah. Beberapa wilayah juga masih hutan karet. Kalau malam itu sepi, gelap, dan dapat dikatakan rawan. Sebab, faktanya, banyak terjadi pembegalan di Lampung,” jelas mahasiswa semester VII tersebut.

Sejauh ini, respons yang baik dari masyarakat sekitar membuat Widy semakin antusias saat menjalani KKN. Bukan hanya itu, masyarakat juga sering memberikan masukan atau saran kepada timnya untuk mengadakan kegiatan-kegiatan lain yang tidak direncanakan sebelumnya oleh Widy.

”Respons masyarakat ini sangat luar biasa. Terkadang mereka juga mengajak kami melakukan kegiatan di luar yang kita agendakan seperti membuat tas dari tali kur. Kami tidak hanya melakukan proker di sini. Tapi, kami juga berbaur dengan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, mereka dapat dibilang sangat percaya pada kita,” imbuhnya. (*)

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

ShareShare on Facebook7Tweet about this on Twitter0Email this to someone