M. REZA Affandi, mahasiwa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR), berhasil lolos dalam seleksi mahasiswa berprestasi tingkat nasional 2018. (Foto: Istimewa)
M. REZA Affandi, mahasiwa Fakultas Kedokteran (FK) dan mahasiswa berprestasi Universitas Airlangga 2018. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Thomas Alfa Edison pernah berkata “Persiapan hari ini menentukan prestasi dimasa depan”. Sebagai mahasiswa baru, penting sekali untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin diawal menjalani kehidupan perkuliahan untuk masa depan yang lebih baik. Berikut tips untuk mengoptimalkan potensi mahasiswa baru dari Mohamad Reza Affandi, Mahasiswa Pendidikan Dokter 2015 sekaligus Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Universitas Airlangga (UNAIR) 2018.

Memahami diri Sendiri

Memahami diri sendiri mulai dari kekuatan, kelemahan, potensi maupun ancaman. Menurut pengalaman dari Reza, hal tersebut dapat diketahui dengan cara aktif mengikuti kegiatan organisasi apaun yang disukai, mengikuti tes minat dan bakat, maupun meminta pendapat orang tua.

“Dulu saya ikut hampir seluruh organisasi di kampus karena memang benar-benar tidak mengetahui minat dan bakat yang sesungguhnya. Namun perlahan organisasi yang tidak saya sukai, kemudian tersingkir ditahun kedua. Ini bukan soal buang-buang waktu, menurut saya justru investasi waktu untuk benar benar menggali minat, bakat, kelemahan, dan kelebihan diri seutuhnya. Bisa jadi kita multitalenta sehingga kita bertahan di dua atau tiga organisasi,” jelas Reza membagikan pengalamannya.

Membuat Rencana dengan Baik

Menurut Reza, perencanaan dapat dimulai dari perencanaan jangka panjang, yaitu satu tahun, empat tahun, sepuluh tahun, dua lima tahun, dan seterusnya. Untuk kemudian diperinci ke bulan, minggu, sampai hari.

“Saya melakukan perencanaan jangka pendek dan panjang. Pertama saya tentukan ingin menjadi apa untuk saat ini, harus jelas dan terukur. Saya memimpikan menjadi orang yang besar, hebat, dan memiliki dampak kepada orang lain. Berhubung jurusan saya kedokteran, ilmu saya sudah dapat diaplikasikan di masyarakat. Namun, saya ingin lebih. Saya memutuskan bercita-cita menjadi dokter spesialis penyakit dalam sekaligus berkarier di birokrasi pengendalian penyakit tidak menular (misalnya menteri kesehatan) Kemudian jangka pendeknya saya bagi perbulan, per minggu, dan per hari.. saya menuliskan jadwal saya tersebut di Google Calendar,” jelas Reza.

Mengenali Cara Belajar

Di perkuliahan, jelas Reza, jika mahasiswa tidak mengenali cara belajar yang cocok, maka belajar akan terasa sangat membosankan, waktu akan terbuang untuk belajar dan hanya mengandalkan hafalan. Sehingga, potensi diri tidak akan termaksimalkan.

“Di kedokteran, jujur saya melihat cara belajar harus diubah total dari belajar D-1 menjadi dicicil, dari hafalan menjadi pemahaman, strategi mengerjakan soal-soal dan seterusnya. Saya perlu waktu hampir satu tahun untuk menyesuaikan diri, mulai dari cara belajar, dan mengatur kesibukan,” terangnya.

Rajin Membaca Buku Favorit Non – Fiksi

Menurut Reza, membaca buku non fiksi sebanyak mungkin dapat berguna untuk meningkatkan wawasan diluar jurusan yang diambil selama masa perkuliahan. Sebagai alternatif lain, bagi mahasiswa yang tidak menyukai buku, Reza menyarankan untuk menyisipkan sebagian waktu guna menonton video produktif di YouTube.

Buat Lingkungan yang Positif

Reza meyakini bahwa di dunia ini terdapat dua tipe teman. Yaitu teman yang toksik dan teman yang produktif. Teman yang toksik adalah mereka yang memiliki karakter sangat berbeda dengan kita, dan selalu mengarahkan kepada hal-hal yang tidak baik. Untuk itu, jauhi teman toksik dan dekati teman yang produktif.

“Saya berusaha untuk bergabung dengan kelompok2 yang baik dan produktif. Dan menjalin komunikasi dengan mereka sesering mungkin. Misalnya: Komunitas, pembinaan beasiswa, asrama keagamaan, mentoring, dan lainnya,” jelas Reza.

Selain itu, bagi mahasiswa yang ingin menjadi mawapres seperti dirinya, Reza berpesan untuk mempersiapkan sejak dini. Mulai mengikuti banyak lomba dan organisasi, serta membangun IPK.

“Hal yang paling penting adalah istiqomah. Dalam hal ini, persisten dikeinginan tersebut,” pungkas Reza.

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone