SALAH seorang pembicara dalam simposium hari pertama menanggapi pertanyaan salah satu peserta simposium. (Foto: Zanna Afia Deswari)
SALAH seorang pembicara dalam simposium hari pertama menanggapi pertanyaan salah satu peserta simposium. (Foto: Zanna Afia Deswari)
ShareShare on Facebook12Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) menggelar simposium dan workshop internasional pada Jum’at (9/8). Kegiatan itu merupakan bentuk kelanjutan kerja sama antara RSUA dan Saint Mary’s Hospital di Jepang.

Bertempat di Dharmawangsa Hall lantai 8 RSUA, simposium tersebut mengundang delapan praktisi dan akademisi Jepang sebagai pembicara. Mereka adalah Dr. Daisaku Urabe; Dr. Harumichi Higashi; Mr. Masakazu Nakashima; Mr. Taku Nikaido; Mr. Noboyuki Ono; Dr. Tomotaka Naramura; Mr. Yuji Nishikubo; dan Mr. Tadayuki Kawasaki.

Delapan pembicara itu merupakan perwakilan dari Department of Clinical Engineering, St. Mary’s Hospital dan Faculty of Health Sciences, Junshin Gakuen University, Fukuoka, Jepang. Selain itu, adadua orang pembicara dari RSUA, yaitu Prof. Moh. Yogiantoro, dr., Sp.PD-KGH., dan Prof. Mochamad Thaha, dr., Sp. PD-KGH., Ph.D.

Mengangkat tema ”Clinical Engineering in Hemodialysis”, simposium tersebut bertujuan memberikan wawasan tentang perkembangan teknologi hemodialisis di Jepang. Khususnya untuk membangun sistem manajemen perlengkapan hemodialisis di Indonesia.

Hemodialisis merupakan metode pencucian darah dengan membuang cairan berlebih dan zat-zat yang berbahaya bagi tubuh melalui alat dialysis untuk menggantikan fungsi ginjal yang rusak. Metode tersebut dilakukan bila ginjal sudah tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik, atau disebut dengan gagal ginjal.

RSUA dan Saint Mary’s Hospital melakukan kerja sama sejak 2017, khususnya di bidang pengembangan clinical engineering. St Mary’s Hospital menawarkan bantuan pelatihan untuk teknisi bidang hemodialisis dari RSUA. Selain itu, inisiasi itu mendapat dukungan dari pemerintah Jepang berupa bantuan dana sebesar 60.000 USD.

Prof. Dr. Muhammad Amin, dr., Sp.P(K), wakil direktur pendidikan dan riset RSUA, menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan inisiatif St. Mary Hospital untuk membantu pengembangan sumber daya manusia teknisi hemodialisis di Indonesia yang belum maksimal. Di RSUA, baru ada sekitar empat unit hemodialisis. Namun, rencananya akan dikembangkan lagi hingga tiga puluh unit.

”Mereka pun mengajukan proposal kepada pemerintah Jepang, dan akhirnya berhasil mendapat hibah. Dana ini kemudian akan dimanfaatkan untuk meningkatkan capacity building teknisi-teknisi kita. Semuanya full didanai oleh St. Mary’s Hospital menggunakan dana tersebut,” Terangnya.

Bahkan untuk penyelenggaraan simposium tersebut, Prof. Amin mengakui bahwa pihak RSUA tidak mengeluarkan biaya sepeser pun. Rencananya RSUA mengirimkan dua perwakilan untuk mendapat pelatihan di Jepang pada September mendatang. Di sana, mereka akan belajar tentang teknologi dan manajemen hemodialisis di St. Mary’s Hospital yang memang sudah terkenal dan diakui kualitasnya di dunia. Selama ini, St. Mary’s telah banyak memberikan kontribusi pengembangan dunia kesehatan di negara-negara berkembang. Salah satunya di Indonesia.

”Tentu kegiatan semacam ini sangat bermanfaat ya. Apalagi, tujuan utama mereka adalah mengembangkan sumber daya manusianya terlebih dahulu,” sebut Prof. Amin.

”Kami belum memastikan apakah mereka nanti juga akan memberikan bantuan berupa peralatan kesehatan. Bukan itu yang terpenting, tapi ilmunya. Agar kemampuan teknisi hemodialisis di Indonesia meningkat kualitasnya,” imbuhnya. (*)

Penulis: Zanna Afia Deswari

Editor: Feri Fenoria Rifa’I

ShareShare on Facebook12Tweet about this on Twitter0Email this to someone