Sapi dan domba untuk kurban di Hari Raya Idul Adha. (Sumber gambar: NU Online)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Tanggal 10 Dzulhijjah atau tepat pada tanggal 22 Agustus 2018 mendatang merupakan hari raya Idul Adha atau Idul Kurban. Idul Kurban merupakan suatu perayaan yang memberikan makna yang luas bagi umat Muslim. Yang mana, umat Muslim disunnahkan untuk menyembelih hewan kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan tanggung jawab sosial kepada masyarakat.

Salah satu syarat terpenting dalam melaksankan ibadah kurban adalah memberikan hewan kurban yang sah berdasarkan syariat Islam dengan kualitas yang baik. Mengenai hal itu, UNAIR NEWS merangkum tips memilih hewan kurban yang baik sesuai dengan syariat Islam. Nara sumber topik ini adalah Dr. Trilas Sardjito, drh., M.Si yang menjabat sebagai ketua Teaching Farm Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR).

  1. Batas Minimal Umur Hewan

Aspek yang mendasari pemilihan hewan kurban yang baik pertama adalah mengenai umur hewan kurban. Hewan kurban yang sah untuk dikurbankan seperti kambing dan domba harus sudah memenuhi umur satu tahun. Sedangkan sapi dan kerbau harus sudah genap dua tahun.

“Cara lain untuk mengetahui adalah dengan melihat gigi hewan. Hewan yang sah ditandai dengan adanya pergantian gigi, yaitu bila dua gigi susu bagian depan sudah tanggal,” jelasnya.

2. Bentuk Tubuh Hewan

Aspek yang kedua ialah bentuk tubuh yang serasi dan tidak cacat. Hewan yang akan dikurbankan harus diperhatikan panjang tubuh, tinggi tubuh, keserasian, dan tidak cacat. Dikatakan serasi jika hewan tersebut standar atau normal. Selain itu, tulang punggung hewan kurban relatif rata atau lurus, tanduknya seimbang, dan kakinya simetris.

“Ciri-ciri yang lain ialah postur tubuh hewan tersebut ideal dengan kombinasi perut, kaki depan dan belakang, kepala, serta leher,” tambahnya.

3. Kesehatan Hewan

Aspek yang ketiga ialah kesehatan hewan. Ciri-ciri hewan yang sehat secara fisik yaitu hewan aktif dan reaktif ketika didekati oleh seseorang. Hewan yang sehat akan lincah, kuat, bersemangat, tidak pincang, tidak gelisah, dan selera makannya bagus.

Lebih lanjut, hewan yang sehat juga memiliki rambut halus yang mengkilap dan tidak mudah rontok. Rambut juga tidak berdiri dan tidak mengalami perubahan warna. Di permukaan kulit hewan juga terbebas dari parasit kulit seperti tungau, caplak, kutu, dan sebagainya.

“Perlu diperhatikan, jika kulit hewan terlihat kusam dan badannya kurus berarti menandakan hewan tersebut mengalami cacingan,” tambahnya.

Sedangkan penyakit yang sering terjadi pada hewan kurban ialah kelelahan yang bisa terjadi akibat proses distribusi. Hewan kurban juga sering mengalami diare dan penyakit demam tiga hari atau BOVINE Ephemeral Fever (BEF). Serta, bebas dari kudis yang mayoritas berasal dari tempat tinggal awal hewan.

4. Persentase Berat Hewan

Aspek yang terakhir ialah persentase berat karkas. Karkas adalah bagian dari ternak setelah disembelih yang terdiri dari daging dan tulang, tanpa kepala, kaki, kulit dan jeroan. Karkas dihitung berdasarkan berat hewan saat masih hidup. Sebagai acuan, sapi PO (Peranakan Ongole) harus memiliki berat karkas 40-45 persen, sapi Bali 52-55 persen, sapi Madura 46-48 persen, sapi peranakan limousin 52 persen, dan sapi peranakan simental 51 persen. (*)

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone