WAHYU dan buku-buku yang ditulisnya. (Foto: dokumentasi pribadi)
WAHYU dan buku-buku yang ditulisnya. (Foto: dokumentasi pribadi)
ShareShare on Facebook115Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Siapa yang tak mengenal sosok mahasiswa prodi Fisika 2016 satu ini. Namanya kerap mewarnai media massa kampus hingga surat kabar nasional berkat sederet prestasi yang membanggakan.

Ialah Mohammad Wahyu Syafi’ul Mubarok. Mahasiswa yang juga menyandang gelar Mahasiswa Berprestasi Fakultas Sains dan Teknologi 2017 itu telah menghabiskan banyak waktunya untuk menuangkan ide dalam tulisan.

Terbukti, sejumlah karya yang ditulisnya berhasil mengantarkan Wahyu menjemput impian. Dari tulisannya pula, dia dapat mewujudkan asanya menjejakkan kaki hingga ke negeri orang, Turki.

Pada sela kesibukannya yang padat, Wahyu tak pernah meluputkan waktu untuk terus produktif dan berkarya. Mahasiswa yang rajin mengikuti kompetisi tersebut telah menerbitkan tak kurang dari lima judul buku beserta puluhan karya dalam bentuk antologi dan esai. Terakhir, dia baru saja mengukir namanya sebagai juara I LKTIN di Universitas Brawijaya bersama dua rekannya beberapa waktu lalu.

Atas banyaknya capaian berkat hobi sekaligus bakatnya itu, tentu banyak yang ingin tahu apa rahasia Wahyu dalam menulis. Jika Anda salah satunya, berikut kami bocorkan tips dan trik menulis dari Wahyu, sang penulis muda dari UNAIR.

Tips menulis

Menurut Wahyu, terdapat tiga rahasia yang digunakan para penulis besar. Rahasia yang pertama adalah menulis, rahasia kedua adalah menulis, dan yang ketiga adalah menulis. Ia mengibaratkan menulis seperti halnya belajar naik sepeda.

”Yang dibutuhkan adalah praktik. Semakin banyak praktik, Anda akan semakin ahli. Jangan terlalu banyak teori, menulis dulu yang banyak, evaluasi kemudian. Sebab, orang bijak mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik,” terangnya.

Trik agar Tulisan Lolos Seleksi

Saat ditanya apakah ada kiat khusus agar tulisan lolos seleksi dan lomba, Wahyu mengaku tak punya trik tertentu. Ia beranggapan jika sebenarnya tulisan atau naskah memiliki takdir masing-masing. ”Dalam artian, ketika naskah tersebut klop dengan dewan jurinya, pasti lolos. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha untuk terus mencoba dan banyak ikut kompetisi,” ucapnya.

Hal tersebut berguna untuk mengetahui dan mengukur seberapa layak naskah yang ditulis. Secara tidak langsung. Keberanian itu juga berperan membangun kepercayaan diri.

”Dan, yang paling penting, jangan lupa berdoa,” imbuhnya.

Kendala menulis

Menurut Wahyu, kendala paling umum yang menghalangi seseorang untuk menulis adalah rasa malas untuk memulai. Kesibukan sering dijadikan alasan sehingga tidak pernah ada waktu untuk menulis. Padahal, yang bersangkutan bercita-cita menjadi penulis. Selain itu, sering banyak orang yang patah semangat ketika karyanya ditolak atau gugur dalam perlombaan.

”Padahal, upaya JK Rowling untuk menjadikan buku Harry Potter meledak di dunia pun harus mengalami penolakan lebih dari sepuluh kali,” katanya.

Sementara itu, kendala di bidang menulis karya ilmiah, lanjut dia, beberapa orang cenderung terlampau puas dengan hasil yang didapat. Jadi, mereka enggan untuk mencoba lagi.

”Tentu, ini akan mengerdilkan kemampuan critical thinking itu sendiri. Sebab, menulis adalah merawat ingatan dan mengonversinya menjadi sebuah kebermanfaatan,” sebutnya.

Cara mengatasi

Semua berangkat dari niat dan keinginan masing-masing. Semakin kuat dan besar misi yang dibawa, semangat seseorang itu untuk menulis semakin kuat. Orang-orang hebat dulunya adalah amatiran yang berani mencoba dan berusaha.

”Kalau saya sendiri, ketika tulisan saya belum juga rampung, saya memotivasi diri sendiri bahwa tulisanmu ditunggu umat. Idemu layak untuk menolong problematika bangsa. Papermu dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dan bermartabat,” jelasnya.

Wahyu menambahkan lingkungan yang mendukung semangat literasi juga diperlukan. Dia menyarankan untuk bergabung dengan komunitas atau organisasi kepenulisan. Hal itu bertujuan menjaga daya dan semangat menulis.

Pada akhir, Wahyu berpesan kepada teman-teman mahasiswa tidak merasa minder dengan anggapan tulisan jelek atau tidak bermutu. Menurut dia, yang menjadi masalah adalah tulisan itu belum menemukan pembaca yang tepat. Atau dalam penulisan ilmiah, ide yang belum lolos bukan berarti tidak layak. Jadi, masih dibutuhkan pengembangan lagi.

”Sebagai contoh, ide saya terkait uji nuklir pernah saya kirim ke PKM-GT, tapi nggak lolos. Akhirnya saya rombak dan saya kirim ke PPI (Persatuan Pelajar Indonesia, Red) Turki. Alhamdulillah lolos dan diundang ke sana,” ungkapnya, lantas tersenyum.

”Intinya, jangan berhenti menulis. Sebab, tulisan adalah jangkar peradaban. Jadi, warnai hidup kita dengan tulisan. Sebab, kita tidak akan tahu tulisan kita yang mana yang akan mengubah sejarah,” pungkasnya.

Jadi, tak ada alasan lagi untuk takut menulis kan?

Penulis: Zanna Afia Deswari

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

ShareShare on Facebook115Tweet about this on Twitter0Email this to someone