Dosen UNAIR Kenalkan Khasiat Temulawak untuk Pakan Ternak

UNAIR NEWS – Tim pengabdian masyarakat (pengmas) program studi D3 Paramedik Veteriner Fakultas Vokasi Universitas Airlangga melakukan alih teknologi kepada masyarakat Desa Brangkal dan Desa Cengkong, Kecamatan Parengan, Sabtu (4/8). Pengmas kali ini merupakan program kemitraan masyarakat (PKM) dengan tema ‘Pembuatan Dodol Temulawak sebagai Upaya Penggemukan Sapi Potong’.

Ketua pelaksana program Retno Sri Wahjuni mengatakan, potensi sumber daya lokal yang tersedia akan lebih bermanfaat untuk masyarakat dengan sentuhan teknologi tepat guna. Pemanfaatan temulawak dikarenakan mudah diperoleh dan mempunyai banyak manfaat bagi ternak, seperti anti cacing dan penambah nafsu makan.

Tujuan pengabdian masyarakat PKM ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pendapatan peternak setempat dengan inovasi dodol yang terbuat dari temulawak (Temulawak Mollases Blok/TMB) sebagai pakan tambahan ternak yang bergizi tinggi.

Selama ini, sebagian besar peternakan rakyat hanya memberikan pakan berupa hijauan atau jerami tanpa memberi pakan tambahan. Padahal, nilai nilai gizinya relatif rendah.

Melalui program PKM ini, diharapkan peternak dapat membuat produk dodol temulawak dengan bahan yang murah dan tersedia di daerah setempat.

Sementara nara sumber lain Tri Nurhidajati dosen Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR mengatakan bahwa sapi potong selain hijauan atau rumput juga membutuhkan pakan tambahan, yaitu konsentrat atau bahan pengganti konsentrat. Bahan pengganti konsentrat salah satunya dodol temulawak sebagai produk yang berbasis bahan herbal lokal yang mudah di dapatkan di daerah.

Kelebihan dari dodol temulawak adalah praktis dalam pemberianya, bergizi lengkap, angka kecernaan tinggi, menambah nafsu makan, sebagai obat cacing serta bahan yang diperlukan mudah didapat dan harganya relatif murah.

Di samping itu, untuk mengatasi masalah musim rawan pakan atau paceklik, peternak dilatih membuat pakan fermentasi yang bahan bakunya menggunakan jerami padi serta jagung dibantu dengan probiotik, sehingga menghasilkan pakan yang bergizi tinggi. Program PKM ini juga membahas masalah penanganan kesehatan reproduksi ternak dan cara pengukuran body scoring pada sapi.

Peserta program PKM ini adalah Kelompok Ternak Desa Brangkal dan Desa Cengkong Kecamatan Parengan Kabupaten Tuban dengan total 50 peserta. Pengmas PKM ini juga dihadiri oleh aparat pemerintah setempat didampingi oleh Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Kamtibmas).

Retno Sri Wahjuni (kiri) menyampaikan materi tentang khasiat temulawak di Desa Brangkal Kecamatan Parengan, Sabtu (4/8). (Dok. Pribadi)

Zaenal Muttaqin selaku Kepala Desa Brangkal mengatakan bahwa kegiatan ini adalah kegiatan yang sangat berguna dan bermanfaat bagi masyarakat karena sebagian besar masyarakat adalah peternak sapi potong tradisional.

“Pakan yang diberikan kepada ternak adalah pakan ala kadarnya sehingga dengan pelatihan dan pengembangan sumber daya masyarakat di bidang peternakan, khususnya di Desa Brangkal dan Desa Cengkong, diharapkan dapat  meningkatkan pengetahuan dan skill peternak, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi peternak dan masyarakat pada umumnya,” terang Zainal.

Zaenal Muttaqin juga mengimbau agar kerjasama ini tetap berjalan dengan baik.

Pengmas PKM di Kecamatan Parengan Kabupaten Tuban ini terdiri dari 5 dosen dan 2 mahasiswa prodi D3 Paramedik. Untuk keberlanjutan program ini akan dilakukan monitoring terhadap pertambahan berat badan sapi selama 30 hari pasca pelatihan. (*)

Penulis: Siti Eliana Rochmi

Editor: Binti Q. Masruroh