LPI
Prof. Hery Purnobasuki, M.Si., Ph.D., saat memberikan arahan seputar Sosilasi Induk Penelitian UNAIR. (Foto: Nuri Hermawan)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Riset dan inovasi menjadi salah satu garda utama dalam menyongsong langkah Universitas Airlangga menuju kampus 500 Dunia. Selain itu, riset dan inovasi juga menjadi bagian penting dari pengamalan tri darma perguruan tinggi.

Untuk itu, Lembaga Penelitian dan Inovasi (LPI) UNAIR menggelar Workshop Pemilihan Skema Penelitian dan Tata Cara Pengusulan Proposal Penelitian DRPM Melalui SIMLITABMAS Tahun 2018. Acara yang digelar di Hotel Wyndam Surabaya itu dihadiri oleh jajaran dosen di Lingkungan Universitas Airlangga dan beberapa tamu dari beberapa kampus di Jawa Timur.   

Mewakili Rektor UNAIR, Wakil Rektor III UNAIR Prof. Mochammad Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D., berkesempatan membuka acara tersebut. Dalam sambutan pembukaan, Prof. Amin menegaskan bahwa seluruh civitas harus menghasilkan riset dan inovasi yang bisa berguna bagi bangsa. Upaya yang dilakukan LPI dengan mengundang pihak dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tingi, menurutnya, menjadi bentuk komitmen untuk meningkatkan riset dan inovasi.

“Ini adalah komitmen kita bahwa harus membuat proposal riset yang berkualitas. Untuk itu, kita harus mau dan terus melakukan riset. Ini komitmen kita,” jelasnya. “Ke depan kita semua menghendaki, dari riset ini ada kontribusi yang nyata baik bagi almamater maupun bangsa kita,” imbuhnya.

Selanjutnya, Ketua LPI UNAIR Prof. Hery Purnobasuki, M.Si., Ph.D., memberikan arahan seputar Sosialisasi Induk Penelitian UNAIR. Dalam paparannya, Prof. Hery juga menegaskan bahwa dalam riset dan inovasi dibutuhkan komitmen bersama.

“Target kita memang banyak. Tapi saya harap tidak sekadar memenuhi target tapi dampaknya harus nyata,” jelasnya.

Ke depan, Prof. Hery mengimbau bahwa Rencana Induk Penelitian harus berpola dari bawah ke atas. Dari riset dan inovasi unggulan yang dimiliki fakultas harus diajukan ke LPI. Selain itu, dalam proses penyeleksian, imbuhnya, LPI akan melihat kualitas riset.

“Jadi tidak ada istilah biasanya diterima. Mari, sekarang kita bekerja bersama-sama untuk melakukan riset dengan baik,” imbuhnya.

Prof. Hery juga menegaskan pentingnya ukuran riset. Baginya hal itu harus diutamakan. Pasalnya, banyak skala prioritas riset yang semua sudah diwadahi. Selain itu, imbuhnya, hasil riset harus jelas. Baik dalam bentuk jurnal Scopus, pedoman akreditasi, buku ajar, teknologi tepat guna, intelektual properti, dan model prototipe.

“Semua akan saya kawal hingga nyata bentuk luarannya,” tandas Guru Besar FST UNAIR itu.

Sementara itu, sebagai pemateri tamu, Dr. Ir. Mustangimah selaku Kepala Peningkatan Kapasitas Riset, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi juga menegaskan tentang skema pendanaan dan penelitian. Menurutnya, penelitian di kampus harus mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.

“Jadi penelitian tidak boleh mandek dalam laporan saja, tapi harus berbentuk banyak hal,” jelasnya. “Untuk itu, dalam memilih skema harus jeli dan jangan sampai salah memilih agar luarannya jelas,” imbuhnya.

Penulis: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone