Mahasiswa tim KKN 58 di Desa Sidojangkung, Kecamatan Menganti, Gresik melatih anak-anak untuk gemar bermain permainan tradisional yang memiliki banyak manfaat, salah satunya melatih interaksi sosial anak. (Dok. Tim KKN)
ShareShare on Facebook16Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Terobosan baru dilakukan mahasiswa Universitas Airlangga yang tergabung dalam tim Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Masyarakat (KKN-BBM) 58 di Desa Sidojangkung, Kecamatan Menganti, Gresik. Salah satu program kerja yang dilakukan oleh tim KKN yang beranggotakan 10 mahasiswa itu adalah melestarikan kebudayaan dan meningkatkan kreativitas anak di desa setempat.

Tim KKN mengajak anak-anak Desa Sidojangkung belajar dan bermain permainan tradisional. Pada program yang berlangsung pada 5 – 7 Juli 2018 itu, permainan yang dipilih adalah ular naga dan ABC Lima Dasar.

Melestarikan permainan tradisional dipilih sebagai salah satu program kerja lantaran memiliki menjadi daya tarik bagi wisatawan, terutama dari manca negara. Dalam permainan ini, anggota tim KKN memandu cara kerja permainan dan dilanjut dengan bermain bersama.

Anggota tim KKN menyadari, penting bagi generasi muda untuk peduli terhadap kebudayaan dan perkembangan kreativitas seorang anak. Kepedulian itu untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang cerdas, beradab, dan berbudaya.

Persiapan permainan ular naga oleh tim KKN di Desa Sidojangkung, Kecamatan Menganti, Gresik. (Dok. Tim KKN)

Selain kedua permainan tradisional itu, tim KKN juga mengadakan lomba mewarnai untuk meningkatkan kreativitas anak.

“Permainan tradisional ini dapat melatih interaksi sosial anak, melatih anak belajar berinteraksi sosial dengan teman-temannya. Hal ini tentunya sangat baik bagi perkembangan anak,” terang Sugiyanto, Kepala Desa Sidojangkung.

“Permainan tradisional juga bisa mengajarkan anak tentang kerjasama dengan teman-temannya, melatih anak menjadi kreatif, serta melatih emosi anak,” tambahnya.

Hampir semua permainan tradisional dilakukan secara kelompok, sehingga dapat membangun emosi anak agar timbul toleransi, memiliki empati terhadap orang lain, serta bersikap sportif, khususnya untuk anak Desa Sidojangkung. (*)

Penulis: Fatikhul Muflich (Mahasiswa S1 Bahasa dan Sastra Indonesia, Ketua Tim KKN-BBM Desa Sidojangkung)

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook16Tweet about this on Twitter0Email this to someone