Director General Ministry of Education Taiwan Andy Cheu-An Bi (dua dari kiri) dan Direktur Eksekutif Airlangga Global Engagement (AGE) UNAIR Prof., Dr., Drs., Ni Nyoman Tri Puspaningsih M.Si. (tiga dari kiri) di depan Center for Indonesia Studies. (Dok. Pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Untuk kali pertama, pusat studi Indonesia di Taiwan didirikan dengan nama Center for Indonesia Studies. Pusat studi ini didirikan atas kerja sama Universitas Airlangga dengan Asia University, Taichung, Taiwan. Peresmian Center for Indonesia Studies berlangsung di Asia University pada Selasa (7/8).

Peresmian ini dihadiri oleh pejabat Asia University dan UNAIR. Director General Ministry of Education Taiwan Andy Cheu-An Bi sangat mengapresiasi inisisasi Rektor UNAIR Prof. Moh. Nasih untuk membuka Center for Indonesian Studies di Taiwan.

“Ini merupakan pusat kajian pertama di Taiwan yang dikelola oleh perguruan tinggi dari Indonesia. Langkah yang sangat diapresiasi. Ini menunjukkan kerjasama antar perguruan tinggi Indonesia dan Taiwan yang semakin kuat untuk masing-masing mempelajari budaya, bahasa, sejarah, dan geografi, baik Indonesia maupun Taiwan,” ungkap Andy.

Selain itu, Andy juga mendukung dan menyambut baik insisasi Rektor UNAIR yang akan membentuk World University Assosiation for Community Development (WUACD). Andy berharap WUACD bisa bergabung dengan Universities’ Social Responsibility (USR) di Taiwan.

Dalam peresmian itu, Deputy Representative Indonesian Economic and Trade Office to Taipei Siswadi dalam sambutannya mengatakan, setiap tahun jumlah mahasiswa asal Indonesia semakin banyak di Taiwan, sehingga insisasi yang bagus dari Rektor UNAIR dengan membuka pusat kajian Indonesian studies ini menjadi penting.

Siswadi berharap UNAIR tidak hanya membuka Center for Indonesia Studies di Asia University, Taiwan, tapi juga di NTUST (National Taiwan University of Science and Technology) Taipei, yang merupakan perguruan tinggi dengan mahasiswa Indonesia terbanyak di Taiwan.


Menarik minat studi mahasiswa Taiwan ke Indonesia

Selain peresmian Center for Indonesia Studies, rangakaian acara lain yaitu Training of Trainer (ToT) atau pelatihan untuk pelatih kursus bahasa Indonesia oleh dosen UNAIR yang diperuntukkan bagi calon pengajar bahasa Indonesia di Asia University, Taiwan. Ada pula kursus bahasa Indonesia bagi mahasiswa Asia University dan sekitarnya oleh dosen UNAIR dan pengajar yang sudah lulus ikut ToT.

Selain itu, juga ada kuliah tamu oleh dosen UNAIR tentang kajian Indonesia yang bersifat multidisiplin. Tidak hanya bidang sosial humaniora, tapi juga bidang health science dan life science. Ini akan rutin diberikan dosen-dosen UNAIR sesuai dengan bidang keahlian.

Ruang kelas Center for Indonesian Studies UNAIR di Asian University, Taiwan. (Dok. Pribadi)

Terkait peresmian Center for Indonesia Studies, Direktur Eksekutif Airlangga Global Engagement (AGE) UNAIR Prof., Dr., Drs., Ni Nyoman Tri Puspaningsih M.Si. berharap semakin banyak mahasiswa Taiwan yang tertarik untuk belajar tentang Indonesia dan khususnya belajar bahasa Indonesia.

“Dengan diresmikan Center for Indonesia Studies ini mudah-mudahan mereka (mahasiswa Taiwan, Red) juga akan tertarik untuk belajar di Indonesia, khususnya di UNAIR, melalui skema double degree, mobility program student, dan staff exchange, baik akademik maupun non akademik atau disebut juga faculty exchange,” terang Prof Nyoman.

Dengan demikian, lanjutnya, melalui kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan capaian international faculty, inbound student, dan join research bagi UNAIR.

Setelah diresmikan pusat studi ini, ke depan akan rutin diadakan pertemuan pembentukan afiliasi pegiat dan pengajar bahasa Indonesia cabang Taiwan. Dengan diresmikan Center for Indonesia Studies, buku-buku karya dosen UNAIR juga akan dipamerkan di sana.

Perlu diketahui, sebelumnya, pada September 2017 lalu, pusat studi Taiwan Taiwan Education Center (TEC) didirikan di UNAIR. Berbagai program pendidikan dan budaya diberikan. Misalnya, workshop dan training bahasa Mandari yang diikuti oleh guru bahasa Mandarin di Jawa Timur. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh
Editor: Feri Fenoria Rifai

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone