Situasi pengungsian di Lombok. (Dok. Pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Pasca gempa susulan yang melanda beberapa wilayah di kepulauan Lombok, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga bekerjasama dengan Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA-UA) Wilayah Nusa Tenggara Barat terus berupaya mendisitribusikan bantuan untuk para korban bencana.

Selain bantuan logistik, sejumlah tenaga medis juga dikerahkan untuk memberikan penanganan medis di beberapa lokasi yang mengalami kerusakan terparah, seperti wilayah Lombok Utara, Lombok Timur, dan Kota Mataram.

Pimpinan tim relawan penanggulangan bencana Lombok dr. Christrijogo Sumartono, dr.,SpAn.,KAR  dari Anestesiologi FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo melalui sambungan telpon tadi pagi Rabu (8/8) menyampaikan sebanyak 16 dokter spesialis dikerahkan, antara lain empat dokter orthopaedi, empat dokter bedah umum, empat dokter anestesi, serta empat orang perawat.

Mereka tiba Senin malam (6/8) dan telah melakukan tindakan operasi ke sejumlah korban bencana yang berhasil dilarikan ke Rumah Sakit Umum Provinsi Mataram.

“Mereka adalah tim aju yang yang pertama kali melakukan repeat assessment di lapangan sambil memaksimalkan pelayanan yang sudah ada,” ungkap dr. Chris.

Selain bantuan tenaga medis, tim juga sedang menunggu kedatangan Kapal Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga, yang diperkirakan akan sampai di pelabuhan Pamenang, Tanjung, Kabupaten Lombok Utara pada Rabu malam, (8/8).

“Lokasi sandar kapal juga sudah saya koordinasikan bersama pihak Dinkes Mataram, dr Lindung, serta tim IKA UA wilayah NTB,” ujarnya.

dr. Chris memastikan, dalam situasi mendesak seperti saat ini diperlukan lebih banyak lagi tenaga dokter umum. Hal tersebut telah diinformasikan ke pihak rumah sakit setempat.

“Di Lombok Utara masih ada korban yang sampai saat ini belum menerima tindakan medis. Mereka perlu penjemputan, mengingat infrastruktur jalan yang rusak dan terputus, sehingga  kesulitan untuk akses kemana-mana. Untuk itu perlu sukarelawan lebih banyak lagi,” ungkapnya.

dr. Chris memperkirakan, jika ketersediaan tenaga dokter spesialis sudah mencukupi untuk bersiaga di Rumah Sakit Umum Provinsi Mataram, maka tim medis lain akan menyebar ke sejumlah rumah sakit yang mampu memfasilitasi ruangan operasi.

dr. Chris (tiga dari kiri) bersama tim dokter dan anggota IKA-UA saat mengunjungi pelabuhan tempat kapal Ksatria Airlangga yang akan bersandar Rabu malam (8/8). (Dok. Pribadi)

“Pihak Dinkes Mataram menjanjikan  akan memberdayakan lima rumah sakit swasta sebagai tempat operasi, dan ini sedang dipersiapkan. Untuk itu perlu disterilkan terlebih dulu, karena kalau tidak steril khawatir pasien malah kena infeksi. Nanti jadi masalah lagi,” ungkapnya.

Menurut dr Chris, saat ini masih dalam fase akut respon. Dimana kondisi luka korban masih menganga sehingga fase akut dalam kebencanaan perlu segera ditangani  dalam waktu  dua minggu.

“Saya dengar kabar banyak korban di beberapa wilayah ada yang belum menerima bantuan makanan dan minuman. Bahkan di beberapa daerah pelosok Lombok Utara terjadi penjarahan, sehingga warga kehabisan stok makanan dan minuman,” ungkapnya.

Sementara itu, Pembina IKA UA Wilayah NTB dr. Doddy AK, Sp.OG(K) mengungkapkan, saat ini tim telah berkoordinasi dengan badan penanggulangan bencana daerah dan telah mengantongi ijin dari pihak Dinkes Provinsi Mataram dan rumah sakit provinsi untuk menggunakan delapan kamar operasi.

Selain dari UNAIR, bala bantuan juga datang dari sejumlah institusi pendidikan lainnya. “Kemarin malam datang tim sukarelawan dari UGM, UNHAS, dan Udayana. Kemudian menyusul dari UB, dan UI,” ungkapnya.

Sebelumnya, sivitas UNAIR melalui Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA UA) Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) sudah lebih dulu menyambangi lokasi bencana empat hari setelah kejadian, tepatnya pada Kamis (2/8) lalu di Sembalun Belumbung, Sembalun Lawang, dan Sadang Lombok Timur. Di lokasi, mereka mengerahkan bantuan logistik seperti beras, makanan, tikar dan selimut serta bantuan tenaga medis.

“Kami pilih di sana karena konsentrasi keparahan saat kejadian gempa pertama ada di sana,” ungkap dr. Doddy AK, Sp.OG(K) Pembina IKA UA.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) NTB periode 2012–2015 itu mengaku salut dengan kerjasama para donator IKA UA. Tidak butuh waktu lama, tim berhasil mengumpulkan uang donasi dan segera bisa menyumbangkan kebutuhan logistik untuk meringankan beban para korban bencana di sana. (*)

Naskah : Sefya H Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone