Perwakilan mahasiswa Airlangga Bojonegoro Community di kediaman Harjo Kardi (berdiri, tiga dari kiri) Desa Margomulyo, Dusun Jepang. Kecamatan Margomulyo. Kabupaten Bojonegoro, Jumat (27/7) lalu. (Dok. Pribadi)
ShareShare on Facebook4Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Liburan kuliah bukan alasan untuk tidak produktif dengan berkegiatan yang positif. Begitu tradisi yang dilakukan mahasiswa Universitas Airlangga asal Bojonegoro bersama komunitas yang akrab disapa ABC (Airlangga Bojonegoro Community).

Mengisi liburan semester genap tahun 2018, komunitas yang lekat dengan jargon Matoh pol itu melaksanakan kegiatan bertajuk Sowan Samin yang berlokasi di Desa Margomulyo, Dusun Jepang, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro pada Jumat (27/7). Sowan Samin didorong oleh keinginan untuk silaturahmi serta mengetahui lebih dalam kearifan lokal masyarakat Samin, salah satu suku di Indonesia yang terletak di daerah Bojonegoro.

Hardjo Kardi keturunan keempat Ki Samin Surosentiko mengatakan bahwa Samin bukanlah suku. Ia lebih senang menyebutnya pejuang. Perjuangan melawan Belanda dengan menolak membayar upeti ke Belanda karena dinilai menyengsarakan rakyat.

Taktik yang dilakukan masyarakat Samin untuk mengelabuhi Kompeni, kata Hardjo, adalah dengan cara berbicara dengan percakapan yang membingungkan. Hardjo mencontohkan, ketika Kompeni bertanya letak rumah, maka masyarakat suku Samin hanya akan menjawab ‘di sana’ tanpa ada tambahan atau isyarat apapun. Cara ini adalah bentuk proteksi diri.

Keturunan Samin Surosentiko tersebar di beberapa daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Daerah Jawa Tengah meliputi Brebes, Pati, Rempang, Kudus dan Blora. Sedangkan di Jawa Timur meliputi Bojonegoro, Lamongan, Ngawi, dan Madiun.

Ajaran utama masyarakat Samin adalah tentang kejujuran. Setiap perilaku harus mengutamakan kejujuran, karena kejujuran yang menuntun hidup ke arah lebih baik.

“Mbah Hardjo menganalogikan, semisal kita mau makan singkong, tanamlah singkong. Kalau mau padi ya tanam padi. Hasilnya bisa dinikmati bersama. Jangan memakan atau mengambil singkong yang bukan hasil tanamanmu. Itu sama saja mencuri. Satu kali mencuri selanjutnya akan mencuri,” kenang Indra Pratama Ketua Umum ABC menirukan pesan Hardjo.

Saat ini Samin sudah menuju masyarakat modern, berpendidikan, serta sadar dengan kebutuhan akan teknologi. Terbukti dengan kepemilikan motor oleh masyarakat kampung. Meski begitu, mereka tetap berpegang teguh pada budi pekerti dengan melestarikan seni. Di sebelah rumah Hardjo terdapat sebuah pendopo lengkap dengan gamelan yang sering digunakan untuk pengiring latihan tari.

Mayoritas masyarakat Samin memiliki mata pencaharian sebagai petani dengan hasil singkong, padi, dan jagung.

“Pasca mengunjungi masyarakat Samin, sebagai mahasiswa dan masyarakat Bojonegoro kita sadar bahwa kejujuran merupakan prinsip hidup yang utama. Berpuluh tahun masyarakat Samin telah menerapkan hidup dengan kejujuran. Bahkan kejujuran digunakan proteksi diri masyarakat Samin pada era Kolonial,” tambah mahasiswa Ilmu Politik UNAIR.

“Yang bisa saya dan temen-temen lakukan selanjutnya adalah menerapkan kejujuran dalam tindakan apapun. Setidaknya dimulai dengan jujur pada diri sendiri. Juga, lebih menghargai dan melestarikan kearifan lokal yang ada karena merupakan salah satu warisan bangsa,” pungkasnya. (*)

Penulis: Wiwik Yuni Eryanti Ningrum

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook4Tweet about this on Twitter0Email this to someone