Ibu-ibu warga Desa Ngempit, Pasuruan, belajar cara mengolah nugget pisang bersama mahasiswa FK UNAIR. (Foto: Sefya Hayu Istighfaricha)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Belakangan, nugget pisang digemari sebagai salah satu kreasi jajanan kekinian. Meski begitu, ternyata kudapan satu ini belum begitu populer di kalangan warga Desa Ngempit, Pasuruan. Beruntung, dalam gelaran bakti sosial angkatan 2016 Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) yang berlangsung 26-30 Juli 2018, warga berkesempatan belajar cara mengolah nugget pisang.

Desa Ngempit, Kecamatan Kraton Pasuruan terkenal dengan komoditas pisangnya yang melimpah. Hampir setiap pekarangan milik warga ditumbuhi pohon pisang beraneka jenis. Seperti pisang gajih, pisang nangka, pisang raja, pisang cicit, hingga pisang telur.

Sayangnya, mayoritas warga masih  mengolah pisang dalam bentuk kripik, atau jajanan tradisional seperti kolak, gethuk pisang, atau kue nagasari.

Melihat ini sebagai peluang untuk memajukan perekonomian masyarakat setempat, mahasiswa FK UNAIR angkatan 2016 yang tergabung dalam tim bakti sosial ATRIUM 2018 berinisiatif menggelar lomba Master Pisang Kreasi dengan memperkenalkan resep nugget pisang sebagai menu utama yang diperlombakan.

Peserta lomba dari kalangan ibu rumah tangga tampak antusias mengikuti perlombaan. Mereka adu kreasi mengolah nugget pisang menjadi kudapan yang lezat serta menarik di pandang mata.

Koordinator acara Ana Qonitatillah mengatakan, perlombaan ini dipersiapkan untuk menginsiprasi  para ibu Desa Ngempit untuk berwirausaha produk makanan yang kekinian dengan memanfaatkan kekayaan komoditas setempat.

“Kami pilih nugget pisang  karena pengolahannya mudah, produk kering, serta penyimpanannya bisa di freezer. Jadi  tahan lama,” ujar Ana.

Sebelum perlombaan, panitia membagikan resep dasar nugget pisang serta uang modal untuk belanja bahan nugget sebesar 50 ribu rupiah kepada para peserta lomba. Tidak hanya enak di lidah, penilaian juga mencakup pada aspek kebersihan, kreativitas serta tampilan topping nugget yang menggoda.

Karena tidak pernah mengenal jajanan satu ini, para ibu peserta lomba jelas terlihat begitu antusias. Salah satunya dirasakan oleh Umi Sapuati. Umi mengaku heran ketika pertama kali  mendengar nama nugget pisang.

“Saya heran, karena setahu saya nugget itu dari daging ayam atau daging sapi. Lha kok ini pisang bisa dibuat nugget juga,” ungkapnya.

Karena sudah tahu cara mengolah nugget pisang, Umi berencana ingin menjajal peruntungan dengan menjual nugget pisang nantinya. Ana berharap kegiatan ini dapat menginspirasi para ibu dan warga untuk mengembangkan bisnis nugget pisang dengan skala yang lebih besar.

“Saya berharap warga Desa Ngempit dapat berinovasi dan menjadikan nugget pisang menjadi peluang usaha baru untuk memajukan perekonomian warga setempat,” ujarnya.

Master Pisang Kreasi merupakan satu dari serangkaian kegiatan bakti sosial angkatan 2016 FK UNAIR yang digelar selama lima hari di Desa Ngempit, Kecamatan Kraton, Pasuruan.

Selain dimeriahkan dengan acara perlombaan, berlangsung pula kegiatan lain seperti tabligh akbar, pengobatan gratis, donor darah, kegiatan operasi jentik nyamuk ke masing-masing rumah warga, pelatihan jurnalistik untuk para remaja karang taruna, penyuluhan Tuberculosis, pelatihan pengolahan limbah plastik, jalan sehat, hingga kegiatan edukatif untuk anak-anak sekolah dasar di sana. (*)

Penulis: Sefya H Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone