Perwakilan Kepolisian, Akademisi, dan Tokoh Agama beri Pandangan Soal Radikalisme dan Terorisme

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Pemaparan dari ketiga pembicara di diskusi Selawean Publik BEM FIB UNAIR. Dari kiri: Nanang Qosim, Haidar Adam, Edi Hartono, dan Miftahul Ulum sebagai Moderator. (Foto: Fariz Ilham Rosyidi)

UNAIR NEWS – Acara Selawean Publik yang diadakan Kementerian Kajian Strategi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) Rabu (25/07), membahas tema ‘Melawan Terorisme Kampus Indonesia Bebas Radikalisme’. Tiga pembicara hadir untuk membahas tema yang sedang hangat di masyarakat itu.

Ketiganya adalah Haidar Adam dosen Tata Negara Fakultas Hukum UNAIR, Edi Hartono Wakasat Intel Polrestabes Surabaya, dan Nanang Qosim takmir Masjid Nuruzzaman Kampus B UNAIR.

Dalam diskusi itu, Haidar Adam menyorot radikalisme dan terorisme dalam pandangan akademisi. Ia berpandangan, setidaknya harus ada tiga peran perguruan tinggi dalam menetralisir paham radikalisme dan tindakan terorisme di masyarakat.

Pertama, perguruan tinggi adalah pengampu kebijakan. Setiap orang harus proporsional dan dapat menjadi agen perubahan untuk menanamkan bahwa radikalisme dan terorisme tidak dapat dibenarkan.

Kedua, menggaransi kebebasan akademik. Radikalisme dan terorisme terjadi akibat adanya kesalahan tafsir. Oleh karenanya, para akademisi bisa membuat kajian dan mendiskusikannya agar mencapai titik pembenaran akademik yang sesuai.

Sementara ketiga adalah menjadi ahli. Akademisi harus belajar dan pandangannya dapat mencerahkan masyarakat. Sebagai contoh yaitu ahli ideologi. Akademisi menjadi ahli dalam memformulasikan ideologi yang berkembang di masyarakat.

Pembicara kedua, Edi Hartono, banyak menyoroti radikalisme dan terorisme dari sudut pandang hukum dan kepolisian.

“Terorisme tidak dikaitkan dengan agama, khususnya agama Islam. Meskipun aksi kejahatan tersebut dilatarbelakangi motif agama, namun terorisme bukan milik agama tertentu,” tegas Edi.

Setiap pandangan yang mengaitkan terorisme dengan agama, khususnya Islam, lanjut Edi, dapat memicu ketakutan terhadap agama tersebut. Contohnya Islamaphobia.

Lebih lanjut ia menganalisis secara mendalam dengan mencontohkan pengeboman gereja di Surabaya yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Ia menganggap bahwa kejadian tersebut diawali dari ‘sel tidur’ (sel mako Brimob) yang di dalamnya terdapat seruan.

“Jika kalian tidak bisa di Mako Brimob, maka lakukanlah di daerah masing-masing,” tegas polisi yang saat mengisi diskusi mengenakan jaket bergambar pulau di Indonesia.

Edi juga mengungkap bahwa ternyata pelaku teror tidak bisa dikaitkan dengan tingkat pendidikan. Namun, bisa diawali dari sana. Yang paling rawan menurutnya adalah Lembaga Dakwah Kampus (LDK).

Edi mencontohkan bahwa di setiap kajian di masjid-masjid, bisa jadi ada ajakan untuk mampir ke rumah setelah kajian selesai. Di situlah, dalam beberapa kejadian, ada penanaman bibit radikalisme.

“Jadi setiap mahasiswa diimbau untuk berhati-hati dan lebih selektif lagi dalam mengikuti kajian agama, khususnya di kampus,” papar Edi.

Dalam kesempatan itu ia juga menyampaikan bahwa peran rektor di kampus juga sangat terbuka untuk melawan penyebaran radikalisme dan  terorisme.

“Rektor selalu melarang dan membatasi ruang gerak paham radikalisme yang masuk kampus,” ujarnya.

Edi lantas berpesan agar jangan mudah bagi siapa saja untuk percaya kepada kelompok dengan embel-embel agama. “Agama sangat seksis sekali. Sesuatu yang dibungkus dengan agama tanpa pandangan yang benar dapat salah. Dan ini yang disebut sebagai radikalisme agama,” tukasnya.

Sementara pembicara terakhir Nanang Qosim yang menjadi perwakilan dari tokoh agama menjelaskan tentang asal kata dari terorisme dan radikalisme. Dia mengatakan bahwa kedua kata itu berkonotasi buruk. Seperti asal kata terorisme berasal dari kata teror yang masuk dalam ancaman atau intimidasi.

Lebih lanjut, Ustaz Qosim sapaannya, menjelaskan kelompok dan motif seseorang atau sekelompok orang dapat melakukan tindakan terorisme.

Sebab-sebab munculnya terorisme, lanjutnya, antara lain tidak puas terhadap segala sesuatu, semua pandangan yang berbeda dan solusi ditolak. Kedua salah paham. Ini berarti adalah pemikiran yang salah. Sebagai contoh menyebut Indonesia adalah negara kafir karena tidak terbentuk pada satu agama.

“Bagaimana peran masyarakat? Khususnya akademisi bisa menjelaskan paham-paham yang benar tentang negara seperti wawasan Nusantara, agar tidak terjebak pada jihad yang salah. Karenanya perlu diberikan tausyiah, taklim, atau diskusi,” ungkapnya.

Sementara menyebab ketiga menurut Qosim adalah rasa kepingin (ingin). Ini adalah niatan yang salah karena semua agama melarang adanya kekerasan dan membunuh.

Terakhir, Qosim berpesan dalam agama diperlukan 5 M, yaitu menjaga agama, menjaga harta, menjaga keturunan, menjaga akal, dan menjaga jiwa. Kelima hal ini yang dapat menghidarkan dari sikap radikalisme dan terorisme. (*)

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu