Ilustrasi
Ilustrasi oleh Feri Fenoria
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Kegiatan Gerakan Bangun Desa (Gerbang Desa) yang telah memasuki tahun kelima membuat panitia memutuskan untuk melakukan pemberdayaan dengan menyentuh berbagai bidang di Kampung Jolosutro. Salah satunya adalah pada bidang ekonomi dengan memaksimalkan potensi pisang yang ada disana.

Anggie Kusumawardhani, penanggung jawab kegiatan pengolahan pisang tersebut menjelaskan, potensi pisang disana cukup besar. Hal yang disayangkan adalah pisang yang dijual warga kepada pengepul mendapatkan harga yang sangat murah. Berbeda jauh dengan ketika pisang itu dijual di pasaran.

“Jadi, demi untuk meningkatkan perekonomian warga Jolosutro, kita berfikir bagaimana cara meningkatkan potensi lokal mereka untuk meningkatkan perekonomian disana. Salah satunya adalah dengan pelatihan pengolahan pisang yang hasilnya akan dipamerkan saat penutupan Gerbang Desa,” jelas Anggie yang juga merupakan mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat.

Dalam pelatihan pengolahan pisang tersebut, imbuhnya, panitia dan volunteer dibagi menjadi lima kelompok, dimana masing-masing kelompok tersebut akan mengajari ibu-ibu untuk mengolah pisang di masing-masing RT. Setiap RT diwajibkan untuk membuat empat varian olahan pisang, masing-masing varian terdiri dari sepuluh sampel.

Pada Jum’at (27/7), hasil olahan tersebut dipamerkan pada warga dan dijual dengan harga yang murah namun tetap mendapatkan keuntungan. Selain itu, juga diambil tiga pemenang dengan olahan pisang yang memenuhi kriteria penilaian seperti kreatifitas kemasan, olahan yang tahan lama, dan kandungan gizinya.

Anggi mengaku, dalam pameran tersebut tim penilai mendapatkan cukup banyak kejutan dari hasil olahan setiap RT. Salah satunya adalah hasil olahan RT 3 yang mendapat peringkat pertama, dan RT 4 yang mendapat peringkat kedua, dimana mereka bisa memanfaatkan hampir seluruh bagian dari pohon pisang.

“Hal yang menarik itu, di RT 3, mereka berhasil membuat kerupuk dari kulit pisang dan sirup dari daun pisang yang ternyata bisa meredakan tenggorokan. Sementara di RT.4, mereka berhasil membuat abon dari ares pisang,” ucapnya.

Anggi berharap, dengan adanya pelatihan dan pameran pengolahan pisang tersebut, masyarakat menjadi tahu, mau, dan mampu untuk membuat olahan pisang yang menarik.

“Tidak hanya dibuat sebagai keripik, tapi juga bisa mengolahnya untuk menjadi abon, kerupuk, selai, ice cream, permen, dan olahan lain yang sudah diajarkan oleh panitia dan volunteer Gerbang Desa,” pungkasnya.

 

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone