Arkeolog Jerman Bicara soal Tradisi Panji di FIB UNAIR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
PENELITI arkeologi dari Jerman Dr. Lidya Kieven memberikan paparan tentang tradisi Panji yang terdapa pada relief Candi Penataran. (Foto: Il Fariz Ilham Rosyidi)
PENELITI arkeologi dari Jerman Dr. Lidya Kieven memberikan paparan tentang tradisi Panji yang terdapa pada relief Candi Penataran. (Foto: Il Fariz Ilham Rosyidi)

UNAIR NEWS – Sudah menjadi rahasia umum bahwa Indonesia memiliki beragam tradisi dan nilai kebudayaan yang bermacam-macam. Di Jawa Timur, salah satunya adalah cerita maupun tradisi Panji.

Cerita Panji merupakan kesenian khas Jawa Timur dengan mengangkat kisah cinta penuh liku Raden Panji (Panji Asmarabangun) dari Kerajaan Jenggala. Terutama kisah cintanya dengan Dewi Sekartaji (Putri Candra Kirana) dari Kerajaan Daha Kediri.

Ulasan mengenai hal itu dibahas secara detail dalam kuliah umum bertajuk “Menelusuri Panji dan Sekartaji” Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga pada Jum’at (27/7). Peneliti Arkeologi asal Jerman Dr. Lidya Kieven dihadirkan sebagai pembicara.

Dalam penjelasannya, Dr. Lidya mengulas seri Panji ke dalam unsur penggambarannya. Pertama adalah perpisahan. Yakni, laki-laki dan perempuan saling merindukan. Kedua, saling mencari. Keduanya saling menggambara bersama kawan-kawan mereka.

Ketiga adalah pelajaran ilmu, yaitu pertemuan dengan pertapa untuk mengasing. Keempat, menuju ke pengetahuan tinggi, yakni menyeberangi air. Dan, yang terakhir adalah cinta kasih dalam penyatuan.

”Yaitu, pasangan keduanya (menikah, Red) yang digambarkan saling duduk secara mesra seperti di dalam gambaran relief candi,” ujarnya.

Menurut Dr. Lidya, perwujudan tradisi Panji di Jawa Timur dan Indonesia sangat kaya. Misalnya, berwujud sastra lisan dan tertulis. Ada juga berupa kesenian kuno di situs Hindu Budha dan kesenian pertunjukkan seperti wayang beber serta gedog.

Sebaran Cerita Panji

Selain berada di Indonesia, tradisi Panji menyebar di wilayah Asia Tenggara. Di Kamboja, Thailand, dan Myanmar, tradisi tersebut berupa seni pertunjukkan dengan nama serta alur cerita yang mengalami perubahan. Itu biasanya dikenal dengan nama Inao.

Dr. Lidya menyampaikan, terdapat 70-an cerita Panji di Perpustakaan Nasional Indonesia Jakarta. Bahkan, ada 200-an cerita panji yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden Belanda.

Selain di perpustakaan, lanjut Dr. Lidya, cerita Panji dapat ditemukan pada arca dan relief di candi-candi Jawa Timur. Misalnya, Candi Penataran di Blitar serta Candi Kendalisodo dan Selokelir di lereng bawah Gunung Penanggungan.

”Ditemukan banyak relief di Candi Penataran Blitar antara tahun 2006 dan 2018. Kebanyakan relief tersebut mengisahkan kehidupan pedesaan seperti ritual, menanam padi, panen, dan (penyimpanan, Red) lumbung,” sebutnya.

Dari pemaparannya, Dr. Lidya menyimpulkan bahwa sastra, kesenian, dan tradisi Panji bisa menjadi sumber inspirasi untuk menghargai tradisi serta mendukung identitas budaya. Termasuk belajar soal nilai kehidupan. Artinya, tradisi Panji tidak hanya menjadi objek kesenian, tapi juga sebagai living heritage (kehidupan berbudaya).

”Lepas dari tafsir serta fungsi panji dalam candi-candi, nilai-nilainya berlaku untuk seluruh manusia,” ujar penulis buku Menelusuri Panji dan Sekartaji: Tradisi Panji dan Proses Transformasinya pada Masa Kini tersebut.

”Walau mengalami hal-hal buruk (perpisahan, Red), kita mengusahakan dan berjuang terus (perkelanaan) untuk mencapai tujuan (penyatuan). Dengan kesediaan menerima bantuan dan ajaran oleh seorang pembimbing yang dicapai adalah kedamaian dan keseimbangan,” tambahnya.

Antusiasme Peserta

Dihadiri sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR dan SMA IT Al Uswah Surabaya, kuliah tamu itu berjalan sangat semarak. Abdullah Mudjahid Ramadhan, siswa kelas XI SMA IT Al Uswah, bertanya mengenai cikal bakal pertemuan Panji dengan Candra Kirana.

Dr. Lidya mengungkapkan, hal tersebut sebenarnya dapat diketahui berdasar mitos yang dikoreo dari suku Dayak. Namun, hal tersebut tetap ada kaitan sejarahnya dengan Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Daha.

Sementara itu, mengenai kuliah tamu tersebut, Didin, salah seorang siswa lainnya, mengaku sangat bersemangat dan senang. Sebab, banyak hal terkait dengan kebudayaan baru, khususnya budaya Jawa Timur, yang menambah khazanah pengetahuannya.

”Jadi ngerti wayang Panji itu gimana. Cerita Panji itu gimana. Padahal, dulunya saya hanya tahu (cerita, Red) Ramayana dan wayang Gedog. Sekarang bisa tahu Wayang Panji itu seperti apa,” tuturnya. (*)

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu