Ilustrasi: google/image
Ilustrasi: google/image
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

Sejak saat itu aku tak pernah berlama-lama menatap langit. Hanya sesekali mencuri waktu saat kau sudah benar-benar terlelap dalam mimpi. Dan, kau adalah yang akan berlama-lama menatap langit, dalam gelap maupun terik. Kau tak akan bertanya selagi aku tak ada di sana. Sementara aku akan menatapmu dari jauh, berbicara pada udara. Yang kutahu, kau dan aku sering tenggelam dalam imajinasi. Mengabdi pada sunyi, berjibaku pada rindu. Sebenarnya aku ingin suatu hari kita bisa menatap langit bersama. Dengan senyum, bukan air mata. Namun, aku tak pernah tega melihatmu bertanya-tanya, dan aku terlalu cengeng untuk menjawabnya. Meski begitu, aku tak mau menangis di hadapanmu. Karena ketika aku menitikkan air mata, kau akan ikut berkaca-kaca. Cukup langit sore ini yang menangis, kau jangan. Karena akan sulit kuhentikan. Itulah mengapa aku suka membiarkanmu menatap langit sendirian. Berbincang pada apa yang kau damba di atas sana. Aku juga. Pun begitu aku tak ingin selalu larut dalam sendu. Rinai, aku tak menjanjikan indahnya masa depan. Tapi, aku akan berjuang mewujudkan apa yang kau cita-citakan. Semampuku, akan kucari arti bahagia untukmu.

Hujan sore tadi menyisakan aroma basah pada tanah yang kupijak. Wangi hujan ibarat mesin waktu yang seolah menggiring ingatan pada dimensi tak beraturan. Aku menggelar kardus yang kudapat dari warung sebelah. Merebahkan diri menatap angkasa yang beranjak gelap. Memeluk dingin yang menguliti malam. Menghirup udara basah yang bercampur bau menyengat tumpukan sampah. Malam ini aku ingin menatap langit lama-lama, sekali saja. Kubayangkan ibu tersenyum dari atas sana.

Bu, kami merindukanmu. Rinai selalu bertanya tentangmu setiap hari. Semenjak ibu pergi, ia suka bicara sendiri. Pada angin, rumput, semut, hingga dinding kardus rumah kita. barangkali ia butuh teman bicara, sementara aku tak bisa mengimbanginya. Aku bicara dengan isyarat yang kubisa. Sementara ia tak memahaminya. Aku sering bingung ketika ia menangis tiba-tiba.

Maafkan aku yang belum bisa menjadi kakak yang baik untuknya. Bu, apa yang bisa kujamin untuk masa depannya? uang kardus dan koran yang kujajakan tak cukup untuk membeli seragam sekolah yang ia impikan. Aku hanya mampu menghibur ketika ia menangis melihat teman-temannya bisa sekolah dan pergi berlibur. Sesekali kuajak dia mancing di pinggir kali. Seketika matanya berbinar. Meski tak pernah pulang membawa ikan, setidaknya kami dapat rongsokan yang bisa ditukar uang. Cukup buat beli garam agar nasi tak hambar.

Aku tak paham mengapa akhir-akhir ini banyak orang menatapku haru. Meski sejak dulu begitu, namun rasanya berbeda, Bu. Seperti mereka melihat dua kali lipat kemalangan terpantul dari mataku. Ah, tapi aku tak peduli. Ibu bilang, hidup harus dinikmati, toh? Orang-orang itu cuma tak paham definisi bahagia orang miskin macam kita. Yang pasti, kusemogakan kelak adikku tak bernasib sama.

Malam ini sunyi, Bu. Tapi apakah ibu tahu, sejatinya semesta tengah berbisik mesra. Tentang hal yang tak diketahui manusia. Semacam rinduku pada ibu, dan cintaku pada Rinai. Tenang saja, aku tak pernah kesepian. Meski aku duduk dan bergumam sendirian. Ah, tapi aku tak sendirian. Masih ada Rinai, yang membuatku tersenyum tiap membuka mata. Satu-satunya yang kumiliki, kelak tumbuh jadi gadis manis yang tidak cengeng lagi.

Beberapa minggu ini, Rinai sering hilang. Kucari sampai petang, namun ia tak kunjung pulang. Di pengujung senja dia akan datang. Hanya meringis, seolah tak terjadi apa-apa.

“Jangan main jauh-jauh, nanti kamu hilang!”

Tapi ia tak pernah menjawab. Entahlah, akhir-akhir ini Rinai jadi jarang bicara. Ia lebih banyak tersenyum dan keluyuran entah kemana. Syukurnya, ia tak merengek minta bertemu ibu lagi.

Aku bangkit, menyeka bulir bening yang jatuh tanpa kusadari. Tiba-tiba sepasang tangan kecil menutup mataku dari belakang.

“Baa..!” gadis kecil itu terkikik sembari melepaskan sekapan tangannya. Aku menariknya ke pangkuanku, memeluknya erat-erat. Rinai diam menatapku. Sejurus kemudian mengalihkan pandangannya pada bintang-bintang.

“Ibu di sana ya?” aku mengangguk.

“Kok ngga pulang?” aku menggeleng, mengedikkan bahu.

Rinai berdiri, berbalik ke arahku, membisikkan sesuatu.

“Aku ingin bertemu ibu.”

Perlahan bayangannya menghilang bersama rintik hujan yang jatuh ke bumi. Kurasakan sunyi kembali mengitari semestaku. Sesaat aku termangu, sebelum akhirnya menyadari ia tak ada lagi di hadapanku. Aku terisak dalam gelap. Membenamkan wajah dalam rerumputan basah.

Bukankah Tuhan telah mengabulkan keinginanmu bertemu ibu, tiga puluh sembilan hari yang lalu?

Ruang kubus, 11/2/2018

 

 

Penulis: Zanna Afia Deswari

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone