Tim KKN Desa Pucakwangi menerima donasi buku-buku literasi segala usia beserta rak buku. (Dok. Tim KKN)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Di era globalisasi seperti saat ini, perkembangan media sangat canggih dan cepat menyebar seperti internet, televisi, maupun media lainnya. Semakin canggihnya berbagai media itu, membuat masyarakat terbiasa menerima informasi secara instan. Terlebih, masyarakat yang tinggal di pedesaan akan malas untuk menggali lebih dalam informasi dari sumber yang lain, seperti buku, majalah, koran, dan sejenisnya.

Untuk meminimalisir kemungkinan itu, mahasiswa Universitas Airlangga yang sedang melakukan kuliah kerja nyata (KKN) ke 58 mendirikan perpustakaan desa. Kegiatan KKN berlangsung selama sebulan penuh, sepanjang Juli 2018, bertempat di Desa Pucakwangi, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan.

Ade Laksmana Putra selaku koordinator kegiatan mengatakan, KKN di Pucakwangi diikuti oleh 15 mahasiswa dari berbagai fakultas. Mahasiswa program studi (prodi) Statistika angkatan 2015 itu juga mengungkapkan bahwa nantinya ia bersama tim akan mendirikan perpustakaan yang berfungsi sebagai pusat informasi dan literasi desa.

“Kurangnya keinginan untuk menggali informasi masyarakat bisa saja dimanfaatkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab sebagai sasaran penyebaran berita hoax dan kambing hitam. Sebab itu kami mendirikan perpustakaan desa sebagai pusat informasi dan literasi yang ada di desa,” terangnya.

Ade menuturkan, Desa Pucakwangi dipilih karena merupakan desa yang memiliki potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam cukup besar. Pucakwangi memiliki tempat wisata berupa sendang, bukit, dan goa. Warga desa di sana mayoritas bekerja sebagai petani, peternak, dan wirausaha.

Sayangnya, warga yang mencoba berwirausaha mayoritas mengalami kegagalan. Hal itu dikarenakan warga desa sangat sulit menerima informasi dari luar. Sebagian besar warga lebih mempercayai sesuatu yang sudah terbukti dibandingkan hanya sebuah teori.

“Oleh karena itu pembangunan perpustakaan desa sangat tepat dibangun di Desa Pucakwangi sebagai sumber-sumber literasi,” tambahnya.

Untuk menyukseskan terbentuknya perpustakaan desa itu, lanjut Ade, tim menerima donasi buku-buku literasi segala usia beserta rak buku. Selain itu, tim juga menerima bantuan dana guna merenovasi tempat yang digunakan. Sebab, tempat yang akan dijadikan perpustakaan adalah bekas gudang.

“Kita akan merenovasi gudang yang isinya bahan material, diubah menjadi perpustakaan desa untuk warga Pucakwangi,” tambahnya.

Respon dari masyarakat sekitar menurut Ade sangat positif. Utamanya dari anak-anak Desa Pucakwangi. Setiap malam anak-anak bermain dan belajar di perpustakaan yang sudah separuh jadi tersebut.

“Harapan kami semoga perpustakaan nantinya dapat dikelola dengan baik meskipun mahasiswa sudah kembali dari pengabdian. Masyarakat juga memiliki minat baca yang tinggi sehingga lebih berwawasan lagi,” tutupnya. (*)

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone