pasca strok
AFNI Unaizah dan timnya menunjukkan ciptaannya, yaitu F-ONE (Finger Eksoskeleton portable) alat bantu gerak jari tangan berbasis sinyal otot sebagai rehabilitasi pasca stroke. (Foto: Tim PKM-KC)
ShareShare on Facebook2Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Kelumpuhan tangan sebagai dampak dari stroke menjadi masalah utama. Stroke merupakan gangguan kesehatan yang cukup serius, baik di negara maju maupun di negara berkembang.

Berdasarkan permasalahan tersebut mahasiswa Universitas Airlangga berinovasi mencari solusi dengan membuat F-ONE (Finger Eksoskeleton portable) alat bantu gerak jari tangan berbasis sinyal otot sebagai rehabilitasi pasca stroke.

Demikian dikatakan Afni Unaizah, selaku ketua tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) yang melakukan inovasi tersebut bersama anggotanya yaitu Muwaffaq Izaz dan Adhe Rahmatullah. Dengan arahan dosen pembimbingnya, proposal PKM-KC berjudul “F-ONE (Finger Eksoskeleton portable) alat bantu gerak jari tangan berbasis sinyal otot sebagai rehabilitasi pasca stroke”, lolos seleksi dan meraih dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam program PKM 2018.

”Kami memberikan sebuah alternatif dalam bidang PKM-KC dengan inovasi alat rehabilitasi F-ONE (Finger Exoskeleton Portable). Alat ini memanfaatkan exoskeleton yang akan membantu jari tangan untuk melakukan gerakan-gerakan dasar sesuai pola pergerakan sebagai sarana terapi,” kata Afni Unaizah.

Alat ini juga memanfaatkan sensor EMG yang dapat menyadap sinyal otot. Sinyal otot akan diproses dengan sistem cerdas menggunakan Artificial Neural Network (ANN) untuk melakukan pembelajaran dari sinyal otot yang diterima, sehingga dapat ditemukan pola untuk gerakan tertentu sebagai terapi. Alat ini bersifat portabel yang dapat meningkatkan efektifitas terapi pasien karena dapat digunakan kapan saja dan dimana saja sesuai keinginan pasien.

Ditanya mengapa berinovasi dengan F-ONE? Dikutipkan oleh Afni bahwa berdasarkan World Health Organization (WHO) sebanyak 15 juta orang terserang stroke setiap tahunnya, dan lima juta diantaranya menderita kelumpuhan, atau cacat permanen. Indonesia merupakan negara berkembang dengan berbagai macam pola hidup masyarakatnya juga menjadi bagian dari banyaknya kasus kelumpuhan tangan yang dialami.

Dijelaskan juga, bahwa kelumpuhan tangan yang dialami oleh pasien pasca stroke menyebabkan ketidaknormalan pada fungsi kerja dari tangan. Penderita akan kesulitan dalam melakukan gerakan-gerakan tangan dasar. Namun, kelumpuhan ini dapat diminimalisir dengan melakukan rehabilitasi untuk memberikan perawatan pemulihan.

Metode rehabilitasi sudah banyak dilakukan dengan melatih daerah alat gerak yang mengalami kelumpuhan dengan mengajarkan pola gerakan atau memberikan dukungan sehingga dapat menunjukkan gerakan tertentu dan dipandu dengan petugas rehabilitasi. Metode saat ini membutuhkan pasien untuk pergi menuju rumah sakit atau tempat terapi, lalu menemui fisioterapis, dan itu dilakukan rutin selama masa rehabilitasi paska stroke.

”Berdasarkan peristiwa itu, membutuhkan waktu lebih lama dan biaya lebih banyak untuk melaksanakan rutinitas tersebut. Metode yang saat ini digunakan juga sangat bergantung pada ketersediaan waktu pasien melakukan terapi di rumah sakit atau tempat terapi, sehingga menyebabkan rutinitas terapi kurang maksimal,” tambah Muwaffaq, anggota tim.

Dengan adanya alat ini, Afni Unaizah dan kawan-kawan berharap dapat memberikan kontribusi di bidang kesehatan di Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para penderita lumpuh tangan untuk dapat menunjang pemulihan fungsi tangan yang lebih baik. (*)

Editor: Bambang Bes

ShareShare on Facebook2Tweet about this on Twitter0Email this to someone