inovatif matematika
ANGGOTA tim PKMM Universitas Airlangga yang menggagas pencarian metode pembelajaran untuk siswa tuna grahita dengan Pop Art Mathematics Book. (Foto: Tim PKMM)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Pasca melakukan survey tentang permasalahan pembelajaran di sekolah luar biasa (SLB), tim mahasiswa Universitas Airlangga membuat sebuah terobosan baru berupa pemberdayaan guru-guru di SLB serta pihak keluarga untuk mengajarkan kepada siswa (anak) salah satu materi dasar yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari, yakni matematika menggunakan Pop Up Book.

Tim mahasiswa UNAIR tersebut adalah Indira Syahraya, Iqbal M, Lelyana S.A, Muqsith A.R, dan Ainur Rahmah, yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKMM). Inovasinya tersebut bahkan sudah berhasil lolos dalam seleksi, sehingga mendapatkan dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2018.

Menurut Indira Syahraya, pemilihan Pop Up Book pada pembelajaran matematika ini dipilih karena selain sifatnya yang portable, buku tersebut juga menarik karena menampilkan gambar tiga dimensi yang tidak hanya dapat dilihat namun dapat disentuh dan dimainkan oleh anak-anak, sehingga meningkatkan keaktifan mereka sekaligus diharapkan mampu mengurangi tingkat kejenuhan dalam proses pembelajaran.

”(M-art Magic) Pop Art Mathematics Book diharapkan mampu membawa angin segar di tengah mereka yang membutuhkan suasana baru dalam proses pembelajaran matematika dasar. Dalam pemberian pembelajaran pada kader guru juga memberikan dampak yang baik dengan nilai post test siswa yang lebih baik dari pre test yang diberikan,” kata Indira Syahraya, ketua tim PKMM ini.

Urgensi pencarian upaya solusi dari masalah pembelajaran seperti ini, karena pendidikan merupakan salah satu ujung tombak terpenting dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM). Mengutip pendapat Ki Hajar Dewantara, “Bapak Pendidikan” kita, pendidikan adalah sebuah proses pembudayaan sebagai usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generai muda yang tidak hanya bersifat pemeliharaan, namun juga untuk memajukan dan mengembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusian.

Besarnya peranan pendidikan dalam kemajuan suatu bangsa membuat berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan masyarakatnya. Dilihat dari segi kualitas pendidikan, Indonesia masih berada di bawah Palestina, Samoa dan Mongolia. Tercatat hanya 44% penduduk Indonesia menuntaskan pendidikan menengah. Sementara 11% murid gagal menuntaskan pendidikan alias keluar dari sekolah (UNESCO, 2017).

Menghadapi kenyataan tersebut, pemerintah berupaya memperbarui kurikulum pendidikan yang semula KTSP 2006 menjadi K13 (Kurikulum 2013). Perubahan kurikulum ini juga berlaku untuk sekolah-sekolah luar biasa (SLB) di Indonesia.

Merujuk pada survei dan wawancara tim PKMM dengan tenaga pengajar di beberapa SLB di Jawa Timur, terutama di Kota Surabaya, menunjukkan rendahnya dampak signifikan dari perubahan kurikulum KTSP 2006 ke Kurikulum 2013. Mengapa? Karena pada dasarnya cara penyampaian materi dari guru ke siswa tidak berubah.

Selain itu karena minimnya jumlah tenaga pengajar di beberapa sekolah, juga keterbatasan jumlah buku-buku penunjang dari pemerintah, sehingga pembelajaran utamanya hanya bisa dilakukan di lingkungan sekolah dengan guru. Sedangkan peran orang tua di rumah sebagai pihak yang diharapkan mampu meningkatkan tingkat pemahaman siswa sangat terbatas.

”Siswa-siswa akhirnya mudah bosan dengan sistem pembelajaran yang diterapkan karena penyampaian materinya butuh waktu lebih lama dari yang seharusnya. Anak-anak cenderung bosan, kemudian marah-marah karena ingin bermain di kelas yang menurut mereka lebih seru,” kata Indira.

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tunagrahita adalah anak yang memiliki kemampuan di bawah rata – rata anak lainnya (anak normal). Dalam dunia pendidikan, anak tunagrahita membutuhkan metode belajar berbeda dengan anak normal, meskipun mereka memiliki tingkat intelektual dibawah normal, namun mereka masih bisa dilatih dengan metode-metode khusus seperti kinestetis dan hal lain yang dapat menarik perhatian mereka.

”Berdasarkan definisi inilah kami percaya bahwa mereka masih mampu dilatih, yang nantinya diharapkan menjadi sosok mandiri walaupun dalam keterbatasan dan mampu melalui aktivitas sehari-hari layaknya anak-anak yang normal seusia mereka,” kata Indira Dkk optimis. (*)

Editor : Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone