INKUBATOR telur ikan karya mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Airlangga sebagi solusi peningkatan produksi benih nila merah di Kabat, Banyuwangi. (Foto = Bastian Ragas)
INKUBATOR telur ikan karya mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Airlangga sebagi solusi peningkatan produksi benih nila merah di Kabat, Banyuwangi. (Foto = Bastian Ragas)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Tim mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Airlangga di Banyuwangi temukan solusi peningkatan produksi benih nila merah di Kabat, Banyuwangi. Solusi itu terwujud dalam produk Program Kreativitas Mahasiswa Teknologi (PKM-T) INTEL. Yakni, Inkubator Telur Ikan untuk Meningkatkan Ketersediaan Benih Ikan Nila (Orechromis niloticus) di Balai Benih Ikan Kabat–Banyuwangi.

Atas ajuan program tersebut, tim INTEL berhasil memperoleh dana hibah dari Kemristekdikti dalam PKM 2018. Selanjutnya, pendanaan itu digunakan untuk merealisasikan program INTEL tersebut. Khususnya dalam melakukan upaya peningkatan produksi benih nila merah di Balai Benih Ikan (BBI) Kabat.

Temuan solusi tersebut berawal dari ditetapkannya BBI Kabat menjadi laboratorium lapangan FPK UNAIR Banyuwangi. Atas dukungan sarana itu, tim yang terdiri atas lima orang tersebut mencari masalah di sana.

Mereka adalah Yunus Yovia Rohman, Indra Wicaksono, Ahmed Sultan Afif Shiddiq, dan Dinda Yuni Istanti. Awalnya, tim menggelar studi lapangan dengan tujuan memajukan BBI Kabat.

Hingga akhirnya, tim menemukan problem soal kemampuan BBI Kabat menyediakan benih nila merah. Balai belum mampu memenuhi kebutuhan mayarakat atas benih karena tingginya permintaan pasar. Penyebabnya, teknologi yang dipakai balai dalam kegiatan pembenihan masih kurang memadai.

”Di BBI Kabat ini, pembenihannya masih dengan cara lama. Ikan nila yang bertelur akan dibiarkan begitu saja di kolam pembenihan. Hingga, induknya mengerami telur di mulut dan menetas di kolam tersebut. Kemudian, larva yang sudah menetas diambil,” kata Ketua PKM INTEL Yunus Yovia Rohman.

”Jadi, prosesnya memakan waktu yang lama. Dan, wajar kalau (BBI Kabat, Red) belum mampu  mencukupi kebutuhan pasar,” imbuhnya.

Yunus mengungkapkan, Nila merah sendiri merupakan tipe ikan yang mengerami telurnya di dalam mulut. Jadi, dibutuhkan waktu yang cukup lama hingga telur menetas menjadi larva.

Karena itu, tim INTEL datang dengan teknologinya, yaitu berupa inkubator telur. Penggunaan teknologi tersebut bertujuan memotong siklus pengeraman pada pembenihan ikan nila.

”Jadi, ikan nila betina yang telah bertelur, lalu dibuahi jantan, dan kembali dierami betina di mulutnya, bisa langsung diambil telurnya untuk dimasukan ke inkubator. Dengan begitu, induk nila dapat kembali bertelur tanpa harus mengerami telur,” ujarnya.

Setelah hampir sebulan program itu dilaksanakan, pihak BBI Kabat sangat berterima kasih kepada tim INTEL. Sebab, teknologi inkubator tersebut berhasil meningkatkan produksi ikan nila, bahkan mencapai dua kali lipat.

PENANDATANGANAN surat kerja sama dengan pihak Balai Benih Ikan Kabat – Banyuwangi. (Foto : Tim INTEL)
PENANDATANGANAN surat kerja sama dengan pihak Balai Benih Ikan Kabat – Banyuwangi. (Foto : Tim INTEL)

”Kami sangat berterima kasih kepada adik-adik UNAIR Banyuwangi ini. Dengan inkubator sederhana ini, produksi ikan nila kami akan cepat meningkat,” ungkap Ketua BBI Kabat Banyuwangi Hadi Subhan, S.P.

”Dan, saran kami, supaya ukuran inkubator ini nanti juga diperbesar. Agar, itu (inkubator, Red) bisa digunakan dalam skala yang lebih besar,” tambahnya. (*)

 

Penulis: Bastian Ragas

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone