Tampak depan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. (Dok. Pribadi)
ShareShare on Facebook465Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) mengubah dan menetapkan penggantian nama jurusan tahun ajaran baru semester gasal 2018/2019. Penggantian nama itu dibuat setelah disahkannya Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia No. 257/M/KPT/2017 tentang Nama Program Studi Pada Perguruan Tinggi pada bulan September 2017.

Ditemui di ruang dekanat, Jumat (6/7), Wakil Dekan 1 FIB Puji Karyanto, S.S., M.Hum mengatakan, keputusan penggantian nama ini ditetapkan di Jakarta, 15 September 2017 lalu. Artinya, aturan Kemenristekdikti ini aktif sejak lembaran negara tersebut diputuskan.

Ada tiga program studi (prodi) yang berubah nama. Sastra Inggris menjadi Bahasa dan Sastra Inggris, Sastra Indonesia menjadi Bahasa dan Sastra Indonesia, dan Sastra Jepang menjadi Studi Kejepangan. Puji mencontohkan, sebelumnya, pada prodi Sastra Inggris mahasiswa harus memiliki keterampilan bidang sastra, juga menulis skrispi bidang sastra. Padahal, ada peminatan linguistik dan cultural studies (kajian budaya).

“Oleh karenanya diperlukan perubahan nama jurusan, yaitu Bahasa dan Sastra Inggris,” terang Puji yang juga pengajar di Departemen Sastra Indonesia.

Mengenai penggantian nama, Puji mengatakan bahwa hal itu tercantum di keempat pasal. Pasal 1 menjelaskan tentang nama program studi yang harus diikuti setiap perguruan tinggi. Tujuannya, untuk memberikan ruang pada perkembangan IPTEK sesuai dengan kondisi saat ini. Salah satunya dengan penambahan atau pengurangan materi pembelajaran di tiap jurusan.

Sementara di pasal ketiga disebutkan bahwa perguruan tinggi dapat mengusulkan penambahan dan/atau perubahan nama program studi sesuai dengan rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi kepada menteri. Hal ini dikarenakan, setiap nama yang akan diubah, capaian pembelajaran juga harus sesuai dengan profil jurusan, kelulusan, pengetahuan, serta karakter mahasiswa yang tercermin di dalamnya.

Ditanyai mengenai adanya perubahan visi-misi jurusan setelah perubahan nama, Puji mengatakan bahwa untuk sementara tidak berpengaruh. Menurutnya, perubahan nama ini justru menyangkut capaian UNAIR menuju World Class University.

“Perubahan nama yang sesuai dengan aturan Dikti dengan perkembangan jurusan secara global ini turut memudahkan para sarjana strata S1 FIB UNAIR yang ingin melanjutkan ke jenjang S2 di luar negeri. Jadi biar bisa saling menyatu,” ujar dosen yang menyukai karya Chairil Anwar tersebut. (*)

Penulis : Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook465Tweet about this on Twitter0Email this to someone