deteksi dini
ANGGOTA Tim mahasiswa UNAIR yang berinovasi membuat “QUSHNADE (Quick and Smart Heart Analyzer Mobile Device), sangat berguna untuk pasien jantung. (Foto: Tim PKM-KC).
ShareShare on Facebook39Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Acute Myocardial Infarction (AMI) adalah salah satu manifestasi paling parah dari penyakit jantung koroner. Jantung koroner sendiri terjadi akibat kurangnya pasokan oksigen pada otot jantung. Terispirasi dengan masalah itu, tim mahasiswa UNAIR melakukan inovasi dan menciptakan alat deteksi dini penyakit AMI.

Menurut American Heart Association, tahun 2013 sebanyak satu  dari tujuh kematian disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada  tahun 2012, AMI masuk dalam kategori sepuluh besar penyakit tidak menular yang menjadi penyebab kematian di rumah sakit di seluruh Indonesia.

Saat ini, untuk mendeteksi AMI diperlukan Electro Cardio Graph (ECG) dan anemnesa dari seorang dokter. Sayangnya, ECG ini hanya dimiliki oleh rumah sakit-rumah sakit besar. Ditambah di Indonesia masih minimnya jumlah dokter spesialis jantung, dengan demikian pasien yang terserang AMI ini sebagian besar tidak bisa tertolong.

Terinspirasi dari realita tersebut, tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKMKC) Universitas Airlangga yang diketuai oleh Rahardian Tarunosudirjo dan beranggotakan Aji Sapta Pramulen dan Difa Fanani Ismayanto, melakukan inovasi dan menciptakan alat deteksi dini penyakit AMI.

Kajian inovasi ini kemudian dilaporkan dalam proposal bertajuk “QUSHNADE (Quick and Smart Heart Analyzer Mobile Device) Sebagai Deteksi Acute Myocardial Infarction”

Mereka mensyukuri bahwa proposal inovasinya ini berhasil lolos seleksi yang dilakukan Dikti, sehingga mendapatkan hibah dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2018.

Dijelaskan oleh Rahardian, selaku ketua tim PKMKC ini, bahwa alat inovasi ini diberi nama QUSHNADE,  merupakan singkatan dari Quick and Smart Heart Analyzer Mobile Device. Alat ini merupakan prototype gabungan antara ECG dan Sistem Pakar.

Mahasiswa yang akrab disapa Dion ini menjelaskan, gelombang PQRST ECG pasien digunakan untuk mengetahui apakah sinyal jantung pasien normal atau terdeteksi AMI. Ketika dinyatakan terdeteksi AMI, maka alat akan menyarankan si pasien untuk segera mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Ketika sinyal jantung dikatakan normal, maka akan dilakukan deteksi menggunakan Sistem Pakar untuk memastikan apakah nyeri pada jantung yang dirasakan pasien tersebut merupakan karakteristik nyeri dari AMI atau bukan. Kemudian, hasil dari ECG dan Sistem Pakar ini ditampilkan pada perangkat android yang terhubung dengan QUSHNADE menggunakan bluetooth.

”Dengan begitu alat ini dapat digunakan secara mudah. Alat ini pun memiliki ukuran yang relatif kecil, sehingga fleksibel dan mudah untuk dipindah-pindah serta dapat digunakan pada kondisi darurat,” tambah Dion.

Ditanya wartawan ikhwal biaya yang harus dikeluarkan? Dikatakan Rahardian alias Dion, bahwa biaya yang dibutuhkan untuk membuat alat ini tidaklah besar. Sedangkan pengoperasiannya pun mudah.

”Sehingga kami berharap alat ini dapat dijangkau masyarakat dan tenaga medis yang berada di seluruh Indonesia. Mengapa demikian, ini mengingat deteksi dini AMI dan penyakit jantung lainnya sangat penting untuk diketahui oleh seluruh masyarakat Indonesia,” tambah Dion bersemangat. (*)

Editor : Bambang Bes

ShareShare on Facebook39Tweet about this on Twitter0Email this to someone