alat bantu gerak
INILAH MYO-EXIST alat bantu gerak lengan pada penderita Quadriplegia, karya inovasi mahasiswa UNAIR. (Foto: Dok PKMKC)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Kenali empat titik Quadriplegia. Apa itu Quadriplegia? Adalah merupakan  kelumpuhan yang disebabkan oleh rusaknya medulla spinalis atau sumsum tulang belakang,  sehingga terjadi gangguan pada sumber impuls listrik.

Jumlah penderita quadriplegia sangat tinggi dan dapat menyebabkan trauma akibat kecelakaan mobil, jatuh, cedera saat berolahraga, hingga kelainan bawaan seperti distrofi otot (kelainan yang menyebabkan hilangnya massa otot).

Kelumpuhan yang disebabkan quadriplegia ini dapat menyebabkan ketergantungan penuh bagi pasiennya, selain itu juga dapat menjadi beban mental tersendiri dikarenakan ekstrimitas yang memiliki fungsi sebagai anggota gerak badan fungsinya berkurang karena terjadinya kelumpuhan.

Berusaha untuk membantu mencari solusi atas masalah diatas dan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi di bidang kedokteran yang semakin pesat ini, mahasiswa Teknis Biomedik Universitas Airlangga berinovasi dengan membuat eksoskeleton sebagai penopang alat bantu gerak yang mengalami kerusakan atau cacat dari penderita quadriplegia.

Mahasiswa tersebut adalah Muhammad Amin, bersama dua anggotanya yakni Aisyah Widayani dan Rizky Widya Rachmawati. Semua dari Program Studi Teknik Biomedis, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR.

Dibawah arahan dosen pembimbingnya, mereka yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKMKC) ini menuliskannya inovasi tersebut dalam proposal berjudul “MYO-EXIST (Electromyography Exoskeleton): Alat Bantu Gerak Lengan pada Penderita Quadriplegia.” Proposal ini telah lolos seleksi Dikti dan memperoleh hibah dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2018.

”MYO-EXIST ini merupakan sebuah alat bantu terapi pada lengan penderita Quadriplegia dengan memanfaatkan sinyal otot penderita,” kata Muhammad Amin, ketua tim peneliti PKMKC ini.

Dijelaskan M Amin dengan mengutip data dari University of Alabama, penderita quadriplegia ini mencapai 40,8%. Dan menurut data di Indonesia, penanganan bagi penderita quadriplegia ini adalah dengan pembedahan, ini bila terdapat gangguan neurologic progresif akibat penekanan.

”Oleh karena itu, kepada penderita quadriplegia ini membutuhkan penanganan secara tepat untuk dapat mengembalikan fungsi ekstrimitas bagi penderitanya,” lanjut Muh Amin.

Ditanya apa harapan kedepan dengan terinovasinya alat ini, Muhammad Amin Dkk berharap sebagai output dari alat ini dapat bermanfaat untuk mampu menggerakkan motor kerangka terapi pada penderita, sesuai dengan gerakan otot lengan penderita quadriplegia. “Mudah-mudahan bermanfaat,” katanya. (*)

Editor: Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone