antosianin ubi
UBI jalar ungu, antosianin ekstraknya mampu sebagai alternatif baru penatalaksanaan diabetes millitus atau kencing manis. (Ilustrasi: khasiat.co.id)
ShareShare on Facebook14Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Diabetes mellitus (DM) atau kencing manis merupakan penyakit metabolik akibat kurang efektifnya kerja hormon insulin dan dapat menyebabkan kerusakan serius pada sistem tubuh, terutama sistem saraf dan pembuluh darah.

Menurut International Diabetes Federation (IDF) tahun 2015, disebutkan bahwa telah terjadi sekitar 10 juta kasus di Indonesia dan diperkirakan akan terus meningkat. Saat ini, terapi insulin merupakan salah satu pengobatan paling manjur untuk meningkatkan kadar insulin pada darah dan menurunkan produksi glukosa oleh hati. Akan tetapi, terapi insulin memiliki banyak efek samping misalnya alergi dan resistensi.

Berangkat dari permasalahan diatas, tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga yaitu Ifan Ali Wafa, Nando Reza Pratama, dan David Setyo Budi, yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE) melakukan penelitian terkait efek antosianin dalam ekstrak ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L) berbasis nanokapsul sebagai alternatif baru penatalaksanaan diabets.

Dibawah bimbingan Dr. Reny I’tishom, M.Si., staf pengajar UNAIR, proposal bertajuk “Potensi Antosianin dari Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L) Berbasis Nanokapsul Carboxymethyl Chitosan dan Hydrochloride Chitosan Untuk Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Tipe 2 Resisten Insulin” ini, berhasil lolos seleksi dan memperoleh dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2018.

antosianin ubi
MAHASISWA peneliti yakni Ifan Dkk dari PKM-PE FK UNAIR melakukan induksi senyawa Streptozotocin pada mencit, selaku hewan coba. (Foto: Dok PKM-PE FK).

Ifan Ali Wafa, ketua tim PKM-PE ini menjelaskan, penelitian ini memanfaatkan ubi jalar ungu yang telah terbukti memiliki kandungan antosianin sebagai bahan antidiabetic tinggi (berkisar antara 110-210 mg/100 gram ubi jalar ungu), selain itu ubi ini sangat mudah untuk didapatkan.

Nanokapsul yang digunakan adalah Carboxymethyl Chitosan (CMC) yang bermuatan negatif dan Chitosan Hydrochloride (CHC) yang bermuatan positif. Gabungan dari CMC dan CHC ini akan membentuk polyelectrolyte film, suatu membram biologis yang memiliki efek memperlambat dan menunda pelepasan material inti dalam nanopartikel.

”Selain itu CMC dan CHC juga memiliki afinitas terhadap mukosa usus sehingga memperpanjang residence time yang akan meningkatkan bioavailabilitas ekstrak ubi jalar ungu,” tandas Ifan.

Ditambahkan oleh Ifan, bahwa penelitian yang dilakukan bersama tim PKM-nya ini berfokus pada peningkatan bioavailabilitas antosianin dari ubi jalar ungu, sehingga hasilnya jika dienkapsulasi dengan nanokapsul gabungan CMC dan CHC bisa untuk penatalaksanaan gangguan diabetes mellitus, katanya. (*)

Editor : Bambang Bes

ShareShare on Facebook14Tweet about this on Twitter0Email this to someone