BAND Rumput, band asal Amerika, kala menampilkan lagu keroncong Walang Kekek di pada Rabu (11/7) di Ruang Siti Parwati, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Airlangga. (Foto: Istimewa)
BAND Rumput, band asal Amerika, kala menampilkan lagu keroncong Walang Kekek di pada Rabu (11/7) di Ruang Siti Parwati, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Airlangga. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Band Rumput, band asal Amerika didapuk menjadi pengisi dalam acara bertajuk ‘’Rabu Keroncong’’ pada Rabu (11/7) di Ruang Siti Parwati, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Airlangga. Acara itu merupakan project Band Rumput atas kerja sama dengan AMINEF (American Indonesian Exchange Foundation). Khususnya dalam upaya mempromosikan beasiswa Fullbright kepada mahasiswa Indonesia. Termasuk sebagai Indonesian tour Band Rumput di Indonesia.

’’Tampak sekali para penonton menikmati musik keroncong,” ungkap Hannah Standiford, vokalis Band Rumput.

Cuk, cak, perkusi, selo, gitar, bass, flute, fiddle, dan bass ukelele melebur dalam harmonika lantunan Walang Kekek dan Caping Gunung. Uniknya, karya musik tersebut disajikan dengan sentuhan puppeter dan crankie.

Band yang mengusung budaya Indonesia itu digawangi 13 pemain. Yakni, Danis Sugiyanto, Hannah Standiford, Edward Breitner, Kyle Dosier, Greyson Goodenow, Brian Larson, Andy McGraw, John Priestley, Natalie Quick,  Beth Reid, Brandon Simmons, Paul Willson, dan Jessica Zike.

Danis yang juga dari Indonesia merupakan satu-satunya pemain yang merangkap menjadi Guest Artistic Director. Laki-laki asal Solo tersebut pernah menjadi pemegang beasiswa Fullbright. Dia berkesempatan mangajar gamelan Jawa di William & Mary and the University of Richmond.

‘’Kebanyakan para pemain kami dulunya anggota Gamelan Raga Kusuma dari Solo,” tutur Hannah.

Hannah yang fasih berbahasa Indonesia itu mengungkapkan bahwa Band Rumput memadukan musik band old-time string dari United States dan British Isles dan gamelan Jawa. Bila ditanya mengapa memilih ‘’Rumput’’ sebagai nama band keroncongnya, menurut dia, personelnya terinspirasi filosofi rumput.

”Rumput adalah tanaman yang tahan cuaca. Saat terjadi kemarau panjang di mana air susah sekali didapat, rumput tetap sanggup bertahan hidup. Walau terlihat layu dan menguning, rumput selalu menyimpan cadangan makanan dalam rimpang akar. Dan, bila hujan tiba, perlahan rumput akan menghija,” jelasnya.

Semantara itu, Rabu Keroncong bertujuan mengenalkan beasiswa Fullbright yang diberikan oleh AMINEF kepada mahasiswa di Surabaya. Beasiswa tersebut ditujukan untuk mahasiswa Indonesia supaya bisa berkuliah di Amerika Serikat.

”Memang untuk memfasilitasi mahasiswa Indonesia untuk kuliah di Amerika Serikat,’’ sebuat Fikri Ahmad Maulana, salah seorang penyelenggara Rabu Keroncong.

AMINEF setiap tahun memberikan lebih dari 250 beasiswa kepada mahasiswa Indonesia. Mereka diberikan kesempatan belajar, mengajar, atau melakukan penelitian asli dalam berbagai disiplin ilmu. Kecuali ilmu kedokteran yang berkaitan dengan perawatan pasien atau pelatihan medis. (*)

 

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone