pemetaan banjir
Rancang Bangun Sistem Pemetakan Banjr (Ilustrasi Tim PKM-KC)
ShareShare on Facebook5Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Banjir merupakan peristiwa alam, yaitu tergenang serta terbenamnya daratan (yang umumnya kering) dengan air. Penyebab volume air meningkat itu dikarenakan luapan air yang terlalu berlebihan di satu area akibat misalnya hujan lebat, peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan sungai.

Luapan air banjir dapat membuat lingkungan menjadi kotor akibat sampah-sampah yang menumpuk atau sampah yang tergenang akibat terbawa banjir. Selain itu banjir dapat menyebabkan erosi/tanah longsor. Semakin deras hujan turun maka semakin tinggi air banjir yang menyebabkan tanah dan jalan terkikis dan dapat menjadi longsor.

Melihat peristiwa tersebut maka dibutuhkan suatu rancang bangun sistem pemetakaan banjir yang dapat memberikan informasi kepada masyarakat, sehingga dapat diketahui lokasi terjadinya bencana banjir. Selain itu sesegera mungkin dilakukan upaya antisipasi untuk meminimalisir jumlah kerugian yang diakibatkan oleh bencana banjir.

Diantara upaya mengatasi banjir tadi, mahasiswa Universitas Airlangga merancang alat atau sistem yang diberi nama “Rancang Bangun Sistem Pemetakan Banjir Menggunakkan Metode Analisis Pola Frekuensi Gelombang Ultrasonik”. Inovasinya ini lolos seleksi Dikti, sehingga mendapatkan dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) 2018.

pemetaan banjir
Skema kerja alat Pemetakan Banjir dengan Metode Analisis Frekuensi Gelombang Ultrasonik. (Ilustrasi Tim PKM-KC)

Mahasis UNAIR yang berkreasi tersebut adalah M. Chorihuddin, ketua tim dari Fakultas Vokasi, bersama dua rekannya yaitu Arief Muchadin, dan Fitri Mulyani, semua dari jurusan D3 Otomasi Sistem Instrumentasi, Fak.Voaksi UNAIR.

Metode IOT (Internet Of Thing) diharapkan dapat membantu dalam mendeteksi ketinggian air yang berpotensi menimbulkan banjir, sehingga proses peringatan dini dapat segera dilakukan dan mengurangi kerugian yang ditimbulkan.

Sensor Ultrasonik disini berfungsi sebagai (input) sensor tekanan ketinggian air dengan pemanfaatan pantulan gelombang frekuensi, dimana data yang diperoleh sensor tersebut dikirimkan mikrokontroller sebagai penggola. Sehingga terjadi komunikasi antar-sistem dengan menggunakan wirelles yang nantinya akan menyalur sampai data dimana (output) pengiriman data dan ketinggian air akan ditampilkan di aplikasi smarhphone. Daya dari sistem ini menggunakan baterai li-ion yang dibantu oleh solar cell yang akan menyimpan panas.

Alat pemetakan banjir ini mampu ditempatkan di bagian bawah jembatan atau pun pipa yang melintasi sungai dengan penempatan sensor yang menghadap ke bawah aliran air sungai.

Selain itu kelebihan alat ini mempunyai penyangga dengan dilengkapi pelampung untuk mengantisipasi apabila air sungai meluap, sehingga otomatis penyangga akan bergerak ke atas karena terdorong pelampung dan alat tidak mudah hilang saat terjadi bencana banjir.

”Rancang Bangun Sistem Pemetakan Banjir Menggunakkan Metode Analisis Pola Frekuensi Gelombang Ultrasonik” ini dapat menjadi solusi bagi pencegahan bencana banjir di daerah rawan bencana di Indonesia,” kata M. Chorihuddin, Ketua Tim PKM-KC ini.

Ditambahkan, sistem ini mampu bekerja secara EFP, yaitu Efektif memberikan informasi dan tidak menggunakan listrik, Fleksibel yaitu dapat di pantau hanya dengan aplikasi smartphone, dan Portable karena hanya mempunya berat 2 kg dengan dimensi 15 cm x 13 cm x 8 cm. (*)

Editor: Bambang Bes

ShareShare on Facebook5Tweet about this on Twitter0Email this to someone